10 Buku Paling Terlarang dalam Sejarah Dunia

Author:
Share

Sejarah literasi manusia tidak hanya dipenuhi oleh pencerahan dan ilmu pengetahuan, tetapi juga oleh ketakutan dan penyensoran. Beberapa buku dianggap begitu berbahaya—baik secara politik, agama, maupun moral—sehingga pemerintah dan institusi di seluruh dunia berusaha memusnahkannya.

Berikut adalah kisah di balik sepuluh buku paling terlarang di dunia yang memicu revolusi, skandal, hingga tragedi.

  1. Codex Gigas (Alkitab Iblis)

Sering disebut sebagai “Alkitab Iblis,” naskah abad pertengahan terbesar di dunia ini diselimuti oleh legenda yang mengerikan. Menurut cerita rakyat, buku ini ditulis oleh seorang biarawan yang melanggar sumpahnya dan dihukum untuk dikubur hidup-hidup.

Dalam keputusasaannya, ia membuat perjanjian dengan Lucifer untuk menyelesaikan buku yang memuat seluruh pengetahuan dunia ini hanya dalam satu malam. Secara fisik, buku ini sangat masif dan membutuhkan dua orang untuk mengangkatnya.

Di dalamnya terdapat ilustrasi iblis setinggi 50 cm yang terkenal, serta berbagai mantra sihir dan teks sejarah. Karena aura okultisme dan ukurannya yang tidak wajar, buku ini sering disembunyikan dan dianggap membawa kutukan bagi siapa pun yang memilikinya.

  1. The Anarchist Cookbook (William Powell)

Ditulis pada puncak era kontra-kultur tahun 1971 oleh William Powell, buku ini mungkin adalah salah satu buku paling berbahaya secara harfiah yang pernah dicetak. Buku ini bukanlah buku masak biasa, melainkan manual instruksi terperinci untuk membuat bahan peledak, senjata rakitan, dan obat-obatan terlarang di rumah.

Tujuan awal Powell adalah memprotes Perang Vietnam, namun buku ini justru menjadi panduan bagi teroris dan penembak sekolah selama beberapa dekade. Buku ini dilarang di banyak negara dan terus diawasi ketat oleh badan intelijen seperti FBI.

Ironisnya, di kemudian hari, Powell sendiri menyesali karyanya dan menghabiskan sisa hidupnya meminta agar buku tersebut ditarik dari peredaran, sebuah permintaan yang tidak pernah sepenuhnya terpenuhi karena hak ciptanya telah lepas dari tangannya.

  1. The Satanic Verses (Salman Rushdie)

Novel realisme magis karya Salman Rushdie yang terbit tahun 1988 ini memicu salah satu kontroversi keagamaan terbesar di abad ke-20. Buku ini dianggap melakukan penistaan berat terhadap Nabi Muhammad melalui urutan mimpi yang menceritakan kembali kehidupan sang Nabi dengan cara yang dianggap menyimpang oleh banyak umat Islam.

Akibatnya, Ayatollah Ruhollah Khomeini dari Iran mengeluarkan fatwa mati bagi Rushdie pada tahun 1989. Buku ini dilarang di India, Bangladesh, Sudan, Afrika Selatan, Sri Lanka, dan banyak negara lainnya.

Dampaknya sangat nyata dan berdarah; penerjemah buku ini di Jepang dibunuh, penerjemah di Italia ditikam, dan penerbit di Norwegia ditembak, sementara Rushdie sendiri harus hidup dalam persembunyian selama bertahun-tahun.

  1. Mein Kampf (Adolf Hitler)

Merupakan manifesto politik sekaligus otobiografi Adolf Hitler, “Mein Kampf” atau “Perjuanganku” menjabarkan ideologi Nazisme yang rasis dan antisemit. Dalam buku ini, Hitler menguraikan rencananya untuk Jerman masa depan dan kebenciannya terhadap Yahudi yang kemudian menjadi dasar bagi Holocaust.

Setelah Perang Dunia II, negara bagian Bavaria di Jerman, yang memegang hak ciptanya, melarang pencetakan ulang buku ini selama 70 tahun untuk mencegah kebangkitan kembali paham Nazi.

Meskipun hak ciptanya telah berakhir pada tahun 2016, buku ini masih sangat dibatasi di negara-negara seperti Austria dan Israel, serta dilarang diperjualbelikan secara bebas di banyak platform daring karena dianggap sebagai simbol kebencian murni.

  1. 120 Days of Sodom (Marquis de Sade)

Ditulis pada tahun 1785 di atas gulungan kertas sepanjang 12 meter saat penulisnya dipenjara di Bastille, buku ini adalah puncak dari literasi yang mengeksplorasi sisi tergelap hasrat manusia. Novel ini menceritakan kisah empat bangsawan kaya yang menculik remaja laki-laki dan perempuan untuk disiksa secara seksual selama empat bulan.

Karena deskripsinya yang sangat grafis mengenai kekerasan seksual, pedofilia, dan penyimpangan ekstrem, buku ini dilarang oleh banyak pemerintah, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, hingga pertengahan abad ke-20. Bahkan hingga hari ini, buku ini tetap menjadi ujian batas bagi undang-undang kecabulan di berbagai negara dan sering kali hanya tersedia bagi akademisi atau peneliti psikologi.

  1. Zhuan Falun (Li Hongzhi)

Buku ini adalah teks utama dari gerakan spiritual Falun Gong yang diperkenalkan di Tiongkok pada awal 1990-an. Awalnya buku ini sangat populer dan menjadi best-seller di Tiongkok. Namun, ketika jumlah pengikut Falun Gong mulai menyaingi jumlah anggota Partai Komunis Tiongkok, pemerintah merasa terancam.

Pada Juli 1999, pemerintah Tiongkok secara resmi melarang buku ini dan meluncurkan kampanye nasional untuk memusnahkan semua salinannya. Memiliki atau mendistribusikan “Zhuan Falun” di Tiongkok dapat menyebabkan penangkapan, kerja paksa, atau penyiksaan. Larangan ini merupakan salah satu contoh penyensoran politik dan agama paling ketat di era modern.

  1. The Catcher in the Rye (J.D. Salinger)

Novel klasik Amerika yang menceritakan kegelisahan remaja bernama Holden Caulfield ini memiliki sejarah ganda yang unik: ia adalah salah satu buku yang paling sering diajarkan di sekolah sekaligus paling sering dilarang di perpustakaan Amerika Serikat. Awalnya dilarang karena penggunaan bahasa kasar dan konten seksual, reputasi buku ini berubah menjadi menyeramkan setelah dikaitkan dengan beberapa pembunuhan profil tinggi.

Mark David Chapman, pembunuh John Lennon, diketahui sedang membaca buku ini saat ditangkap dan mengklaim bahwa buku tersebut adalah “pernyataannya”. Demikian pula, penembak Presiden Ronald Reagan, John Hinckley Jr., juga terobsesi dengan novel ini. Asosiasi dengan gangguan mental dan kekerasan membuat buku ini sering dipandang dengan curiga oleh otoritas.

  1. The Protocols of the Elders of Zion (Anonim)

Ini adalah salah satu pemalsuan literatur paling berbahaya dalam sejarah manusia. Buku ini pertama kali muncul di Rusia pada awal abad ke-20 dan diklaim sebagai notulen rapat rahasia para pemimpin Yahudi yang merencanakan dominasi dunia. Faktanya, buku ini adalah hoax yang dibuat untuk memicu antisemitisme.

Henry Ford mendistribusikan 500.000 eksemplar di Amerika Serikat, dan Adolf Hitler menggunakannya sebagai justifikasi propaganda Nazi di sekolah-sekolah Jerman. Meskipun telah terbukti palsu berkali-kali, buku ini masih dilarang di banyak negara yang memiliki undang-undang anti-ujaran kebencian, namun sayangnya masih beredar di beberapa wilayah Timur Tengah dan kelompok neo-Nazi sebagai alat propaganda.

  1. Animal Farm (George Orwell)

Meskipun tampak seperti dongeng tentang hewan ternak yang bisa bicara, novel ini adalah alegori tajam yang menyindir Revolusi Rusia dan korupsi kekuasaan di Uni Soviet. Karena kritiknya yang jelas terhadap Stalinisme, buku ini dilarang total di Uni Soviet dan negara-negara satelitnya hingga runtuhnya Tembok Berlin.

Tidak hanya di blok komunis, buku ini juga sempat dilarang di Uni Emirat Arab pada tahun 2002 karena memuat teks yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam (terutama karakter babi yang bisa bicara dan minum alkohol). Di Korea Utara, buku ini tetap menjadi salah satu bacaan paling terlarang karena pararelnya yang menakutkan dengan rezim yang berkuasa di sana.

  1. Ulysses (James Joyce)

Karya James Joyce ini dianggap sebagai salah satu novel terpenting dalam sastra modernis, namun perjalanannya menuju publik sangat terjal. Diterbitkan secara lengkap pada tahun 1922, buku ini segera dilarang di Amerika Serikat dan Inggris karena dianggap cabul.

Joyce menggunakan teknik stream of consciousness untuk menggambarkan pikiran manusia secara jujur, termasuk fantasi seksual dan fungsi tubuh yang pada masa itu dianggap tabu untuk dituliskan. Penyelundupan salinan “Ulysses” menjadi aktivitas bawah tanah yang populer di kalangan turis sastra di Paris.

Larangan di Amerika Serikat baru dicabut pada tahun 1933 setelah persidangan bersejarah yang mendefinisikan ulang batas antara seni dan pornografi dalam hukum modern. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!