Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan yang signifikan di wilayah Selat Lombok pada
awal tahun 2026 ini.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, selama periode 5 hingga 9 Januari 2026 (hingga pukul 18.00 WITA), tercatat sebanyak 264 kejadian gempa bumi di kawasan tersebut. Rentetan gempa ini memiliki magnitudo yang bervariasi, berkisar antara 1,4 hingga 2,9.
Ditinjau dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, rangkaian gempa tersebut diklasifikasikan sebagai gempa bumi dangkal. Aktivitas ini dipicu oleh pergerakan sesar aktif yang berada di dasar laut Selat Lombok.
Mengingat dinamika bumi yang kompleks dan sifat gempa bumi yang hingga saat ini belum dapat diprediksi secara pasti kapan dan berapa kekuatannya, pihak terkait menekankan pentingnya kewaspadaan.
Peningkatan pemahaman masyarakat melalui sosialisasi dan simulasi kebencanaan dinilai sangat krusial guna mengurangi risiko kerugian materi maupun korban jiwa.
Sebagai upaya mendukung program zero victim, masyarakat diimbau untuk proaktif menerapkan langkah mitigasi mandiri, terutama saat merasakan guncangan gempa yang kuat dan berdurasi lama.
Beberapa langkah penyelamatan diri yang disarankan antara lain:
- Melindungi kepala dari reruntuhan.
- Menjauhi kaca, jendela, dan bangunan yang rapuh.
- Segera menjauhi wilayah pantai.
- Menuju area terbuka atau titik kumpul aman untuk mengantisipasi adanya gempa bumi susulan.
Untuk menghindari kepanikan akibat informasi yang tidak benar (hoaks), masyarakat diharapkan hanya mempercayai informasi resmi dari BMKG. (TB)
