Upaya meningkatkan kualitas sumber daya ritual Hindu Bali kembali diperkuat melalui pembukaan Diklat Kepemangkuan, Serati Banten, dan Calon Pandita yang digelar Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) bekerja sama dengan PHDI Bali, UHN IGB Sugriwa, dan Kementerian Agama. Pelatihan intensif ini resmi dimulai pada Sabtu, 16 November 2025.
Ketua PHDI Bali yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum MGPSSR, I Nyoman Kenak, menyampaikan bahwa tahun ini tercatat 81 peserta mengikuti diklat. Dari jumlah tersebut, 17 orang merupakan calon pandita, sementara yang lainnya adalah pemangku dan serati banten yang ingin memperdalam kompetensi.
Menurut Kenak, diklat tahunan ini dirancang sebagai ruang penguatan kapasitas pelaksana upacara adat dan keagamaan Hindu Bali. Berdasarkan praktik umum pembinaan profesi keagamaan, peserta akan mengikuti rangkaian pelatihan selama enam bulan, yang digelar setiap Sabtu dan Minggu. Kegiatan ditutup dengan ujian, prosesi majaya-jaya, dan penyerahan sertifikat bagi peserta yang dinyatakan lulus.
“Pelatihan ini disiplin. Seluruh peserta wajib mengikuti rangkaian kegiatan dari awal sampai akhir. Jika ada yang tidak lengkap, tidak bisa dinyatakan lulus,” ujarnya.
Porsi pembelajaran terdiri dari sekitar 30 persen teori dan 60 persen praktik. Materi teori mencakup teologi Hindu, sesana, dharmagita, wariga, serta pemahaman komprehensif tentang tata cara pembuatan banten. Pada sisi praktik, peserta juga diajarkan ngeringkes layon—tata cara penanganan jenazah sesuai tradisi Hindu Bali—mulai dari membuat pengulung hingga proses pembersihan.
“Materi tentang ngeringkes layon akan saya bawakan langsung. Peserta tidak hanya mendengar, tetapi juga praktik,” jelas Kenak.
Selama diklat, para pemangku akan diajak mengikuti kegiatan ngiring sulinggih untuk mengalami langsung praktik pelayanan keagamaan. Para pengajar merupakan sulinggih, akademisi UHN IGB Sugriwa, tokoh PHDI, serta perwakilan Kementerian Agama.
Untuk penilaian akhir, serati banten diuji dalam pembuatan banten yang kemudian di-nganteb oleh pemangku. Penilaian tidak hanya berfokus pada kesesuaian wujud banten, tetapi juga kekompakan dan ketepatan dalam proses persiapan.
Setelah pembukaan resmi, sesi pelatihan perdana dijadwalkan berlangsung setelah Hari Raya Galungan. (TB)
