Gebrakan baru datang dari dunia pendidikan Bali. Tidak lagi sekadar mengejar juara lomba, Unit Kegiatan Ekstrakurikuler (ekskul) Madyapadma Journalistic Park yang berbasis di SMAN 3 Denpasar kini menapaki level yang lebih serius dengan meluncurkan lima Pusat Studi Penelitian sekaligus.
Peluncuran ini dilakukan pada puncak acara Presslist ke-15, Sabtu (27/12). Langkah ini menandai transformasi budaya riset pelajar dari sekadar proyek insidental menjadi penelitian berkelanjutan yang memiliki dampak nyata.
Salah satu sorotan utama dari peluncuran ini adalah Pusat Studi Penelitian Rompi Anti Peluru. Riset ini mencoba mendobrak stigma bahwa teknologi pertahanan harus selalu mahal dan impor.
Ketua Seksi Peluncuran Pusat Studi, I Wayan Tabah Satya Wiguna (16), mengungkapkan kekagumannya terhadap inovasi rekan-rekannya yang memanfaatkan bahan alam lokal.
“Setahuku masih jarang banget dan enggak kepikiran kalau bahan alam seperti serat gebang itu ternyata bisa dibuat jadi rompi anti peluru. Ini inovasi yang belum banyak diketahui masyarakat,” ungkap Tabah Satya.
Pusat studi ini mengembangkan material alternatif yang lebih ekonomis dan ringan menggunakan serat alami, seperti serat gebang dan serat nanas, sebagai pengganti kevlar konvensional.
Selain teknologi material maju, Madyapadma juga meluncurkan Pusat Studi Penelitian Sains Dasar Berbasis Kearifan Lokal. Bidang ini menawarkan pendekatan unik: membedah tradisi Bali melalui kacamata ilmiah.
Koordinator Bidang Pameran Karya Ilmiah, Ida Bagus Putra Arka Diwangkara (17), menjelaskan bahwa pusat studi ini akan meneliti landasan ilmiah di balik tradisi leluhur, seperti penentuan dewasa ayu (hari baik) dan filosofi gelang tridatu.
“Hal-hal seperti inilah yang ingin dibuktikan oleh Madyapadma kepada masyarakat luas, bahwa segalanya ada alasannya. Tradisi tidak hadir tanpa sebab, tetapi bersumber dari pengamatan leluhur terhadap pola alam,” jelas Arka.
Dalam Presslist 15 ini, total ada lima bidang unggulan yang diresmikan sebagai pusat studi, yaitu:
- Pusat Studi Rompi Anti Peluru: Fokus pada material pertahanan dari serat alam.
- Pusat Studi Bioavtur: Riset bahan bakar pesawat ramah lingkungan alternatif avtur impor.
- Pusat Studi Kamboja: Diversifikasi pemanfaatan bunga kamboja menjadi produk bernilai guna.
- Pusat Studi Sains Dasar Berbasis Kearifan Lokal: Validasi ilmiah sistem kalender dan tradisi Bali.
- Pusat Studi Biomaterial Maju: Pengembangan material mutakhir untuk kebutuhan global.
Pembentukan pusat studi ini juga melibatkan alumni untuk menjaga kontinuitas pengetahuan. Tabah Satya menegaskan bahwa tujuan utama inisiatif ini adalah agar riset siswa tidak berhenti saat lomba usai.
“Penelitian tersebut agar tidak hanya untuk lomba, tetapi berkelanjutan dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari,” pungkas Arka Diwangkara menambahkan.
Dengan adanya wadah spesifik ini, anggota Madyapadma kini dapat memilih fokus riset sesuai minat mereka, menjadikan SMAN 3 Denpasar sebagai inkubator peneliti muda yang siap bersaing di era globalisasi tanpa melupakan akar budaya. (TB)
