Amor Ing Acintya, I Wayan Sugita, Pemeran Patih Agung Drama Gong Berpulang

Author:
Share

Kabar duka datang dari kesenian Bali khususnya drama gong. Pemeran patih agung dalam drama gong I Wayan Sugita berpulang.

Ia berpulang pada Rabu, 7 Januari 2026 dan disebutkan karena serangan jantung. Kabar duka ini salah satunya dibagikan Dirjen Bimas Hindu, I Nengah Duija melalui akun Facebooknya.

“Om Swastyastu, atas nama pribadi, keluarga dan pimpinan serta seluruh staf ditjen Bimas Hindu menyampaikan dukacita mendalam atas berpulangnya rekan kita Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si, semoga sang atman menyatu dengan sang paratman, dan keluarga yg ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Awignamastu,” tulisnya.

I Wayan Sugita memiliki gelar lengkap Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si. Ia adalah fenomena langka dalam ekosistem seni budaya Bali, sosok yang berdiri tegak sebagai jembatan kokoh antara panggung hiburan rakyat dan mimbar akademis tertinggi.

BACA JUGA  Terdesak Pulang Kampung, Pria Asal Bogor Curi Uang dan Motor Majikan di Denpasar

Tinggal di Banjar Udyana Shanti, Poh Gading, Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara, namanya telah terukir sebagai legenda hidup berkat perannya sebagai “Patih Agung” dalam masa keemasan Drama Gong di era 1980-an hingga 1990-an.

Tidak seperti seniman pada umumnya yang seringkali hanya dikenal lewat satu sisi kehidupan, Sugita memiliki kapasitas intelektual dan artistik yang seimbang, menjadikannya tokoh panutan yang disegani baik oleh masyarakat penikmat seni di desa-desa maupun kalangan intelektual di lingkungan kampus.

Di atas panggung, pria asal Samplangan Gianyar ini memiliki karisma yang seolah tak terbantahkan. Ia berhasil menciptakan standar emas bagi peran Patih Agung—sosok pejabat kerajaan yang berwibawa, tegas, dan gagah berani.

Ciri khas yang paling melekat dalam ingatan kolektif masyarakat Bali adalah gaya nanjung kancut miliknya; sebuah gerakan teatrikal khas saat menendang kain belakang (kancut) kostum patih ketika berjalan atau mengekspresikan kemarahan.

BACA JUGA  Upacara Kepus Pungsed dalam Tradisi Hindu Bali, Ini Makna, Prosesi, dan Simbolisme

Gerakan ini dilakukannya dengan penuh taksu dan presisi, didukung oleh vokal bariton yang lantang serta postur tubuh tegap, sehingga mampu menghidupkan karakter tersebut dengan intensitas yang sulit ditandingi oleh pemeran lain hingga hari ini.

Namun, di balik kegagahan dan watak kerasnya saat memerankan Patih, Wayan Sugita adalah seorang akademisi yang berdedikasi tinggi dan santun. Ia mematahkan stigma lawas bahwa pelaku seni tradisi sering mengabaikan pendidikan formal.

Perjalanan intelektualnya mengantarkannya meraih gelar akademik tertinggi sebagai Guru Besar (Profesor) di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Melalui peran akademisnya ini, beliau tidak hanya mewariskan ilmu lewat praktik panggung, tetapi juga melalui bimbingan disertasi, penelitian, dan kajian ilmiah, memastikan bahwa filosofi serta nilai-nilai luhur Drama Gong tetap terjaga secara sistematis dalam literatur pendidikan Hindu dan budaya Bali.

BACA JUGA  Sosok Angel Marianne, Aktris Muda Asal Bali yang Bersinar Lewat Magic 5, Lengkap Agama, Instagram

Dedikasi Prof. Sugita terhadap seni tidak pernah surut meskipun usianya tak lagi muda. Melalui Sanggar Seni Puspa Kencana yang dipimpinnya di Ubung Kaja, beliau terus aktif membina generasi muda Denpasar untuk mencintai seni peran tradisional.

Ia kerap tampil memukau dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB), melakukan reuni dengan rekan-rekan sejawatnya, sekaligus menjadi mentor bagi duta-duta seni Kota Denpasar. Kehadirannya adalah bukti nyata bahwa tradisi dan modernitas pendidikan dapat bersinergi membentuk karakter manusia Bali yang unggul. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!