Dunia sastra Bali modern kembali mencatatkan sejarah baru. Novel berbahasa Bali berjudul Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya pengarang senior Ketut Sugiartha, resmi ditetapkan sebagai pemenang Hadiah Sastera Rancage 2026 untuk kategori Sastra Bali.
Keputusan ini diumumkan berdasarkan penilaian Juri Sastera Rancage untuk sastra Bali, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra. Novel terbitan Pustaka Ekspresi tahun 2025 ini berhasil menyisihkan 11 karya sastra lainnya yang terbit pada periode yang sama.
Hadiah bergengsi ini dipersembahkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung, sebuah inisiatif mendiang sastrawan Ajip Rosidi yang kini telah memasuki usia ke-38 tahun, sebagai bentuk apresiasi terhadap karya berbahasa daerah Sunda, Jawa, dan Bali.
Diwawancarai pada Senin (2/2/2026), Ketut Sugiartha mengungkapkan bahwa Lampah Sang Pragina memiliki sejarah panjang sebelum lahir sebagai buku utuh. Novel setebal 116 halaman ini merupakan transformasi dari karya berbahasa Indonesianya, Elegi Sang Penari, yang pernah dimuat bersambung di tabloid Nova pada era 1990-an dan diterbitkan Balai Pustaka pada 2004.
Dalam versi bahasa Bali, cerita ini sempat dimuat sebagai cerita bersambung di majalah online Suara Saking Bali dengan judul Mawa Madui.
“Novel ini pada dasarnya transformasi. Namun, ada perubahan teknis. Jika Elegi Sang Penari menggunakan sudut pandang orang pertama (aku), di Lampah Sang Pragina saya ubah menjadi sudut pandang orang ketiga,” jelas pengarang kelahiran Tabanan, 9 November 1956 ini.
Sugiartha mengakui, novel ini diramu dari peristiwa nyata yang dipadukan dengan imajinasi dan pengalaman pribadinya. Saking hidupnya kisah tersebut, ia mengaku pernah dihubungi pembaca yang mengira nasib tokoh utama novel tersebut benar-benar menimpa dirinya.
Lampah Sang Pragina berkisah tentang seorang pemuda Bali yang memiliki bakat luar biasa dalam menari. Namun, hidupnya berbalik ketika ia terjerat cinta terlarang—cinta beda kasta. Demi menjaga nama baik keluarga, ia terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya dan merantau ke Jakarta.
Hidup bersama pamannya di ibu kota ternyata tidak memberikan ketenangan. Konflik baru muncul yang memaksanya minggat dan memulai petualangan hidup yang penuh gejolak batin, sebelum akhirnya kembali ke Bali untuk menemukan jati dirinya.
Juri Hadiah Sastera Rancage, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, menyebutkan ada tiga keunggulan utama yang membuat novel ini layak menjadi juara. Meski mengangkat tema klasik tentang konflik kasta (wangsa), Sugiartha dinilai mampu menyajikannya secara orisinal dan tidak klise.
“Novel ini memotret realitas masyarakat Bali yang terbelah antara sikap konservatif dan modern dalam menerapkan adat, tanpa menonjolkan keberpihakan. Pengarang membebaskan pembaca untuk memilih posisinya sendiri,” ujar Prof. Darma.
Selain itu, penggunaan bahasa Bali dalam novel ini dinilai lugas namun tetap kaya akan metafora estetis, seperti ungkapan “weruh ring aran tan weruh ring rupa”. Alur ceritanya yang paralel—memadukan nuansa sad ending di awal dan happy ending di akhir—juga menjadi nilai tambah tersendiri.
Dalam catatannya, Prof. Darma mengungkapkan bahwa jumlah buku sastra Bali yang terbit pada tahun 2025 sedikit mengalami penurunan, yakni 12 judul, dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 14 judul.
Penerbitan tahun ini didominasi oleh Pustaka Ekspresi yang mencetak 11 dari 12 judul tersebut. Adapun tema-tema yang mendominasi karya sastra Bali tahun ini masih berkutat pada tiga isu utama: konflik kasta, persoalan ilmu hitam (leak), dan kritik terhadap kerusakan alam Bali akibat alih fungsi lahan.
Ketut Sugiartha berharap kemenangannya ini dapat membuat karyanya menjangkau lebih banyak pembaca, khususnya generasi muda di Bali, mengingat kisah yang diangkat sangat lekat dengan dinamika sosial masyarakat Pulau Dewata. (TB)
