![]() |
| Website Desa Petandakan |
Desa Petandakan merupakan salah satu desa di Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Desa ini berdiri secara resmi pada tanggal 1 April 1968, melalui penerbitan Surat Keputusan Bupati Daerah Tingkat II Buleleng pada tanggal 3 Mei 1968 dengan nomor 75/Pemd.1/81/68.
Desa ini berada di ketinggian 150 meter di atas permukaan laut dan memiliki kisah sejarah yang kaya akan nilai spiritual serta peran strategisnya pada masa lampau.
Menurut cerita turun-temurun, sejarah desa ini awalnya bernama Desa Pesandekan. Nama ini diambil dari kata “sandek,” yang dalam bahasa Bali berarti “tahan” atau “berhenti sejenak,” dengan imbuhan “pa” dan “an” yang bermakna “tempat.” Secara harfiah, Pesandekan berarti tempat untuk beristirahat.
Lokasi strategis Desa Pesandekan, yang terletak di antara Kota Singaraja dan daerah pegunungan hingga Pancasari, menjadikannya tempat yang ideal bagi para pelancong untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Karena itu, desa ini menjadi titik persinggahan yang ramai, yang perlahan berkembang menjadi pemukiman dengan penduduk yang terus bertambah.
Desa ini juga memiliki kaitan erat dengan sejarah perjuangan Kerajaan Buleleng melawan penjajahan Belanda dalam Puputan Jagaraga. Pada saat itu, Raja Buleleng meminta bantuan dari Raja Klungkung untuk menghadapi perang besar tersebut.
Dalam perjalanan menuju medan perang, rombongan kerajaan melewati wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Petandakan. Di sinilah pasukan kerajaan beristirahat dan menyusun strategi. Salah satu tokoh penting dalam rombongan tersebut adalah Ki Patih Petandaka, seorang panglima perang yang memiliki kesaktian luar biasa.
Selama bermalam di Desa Pesandekan, Ki Patih Petandaka mendapatkan wangsit berupa anugerah keris dan pedang sakti yang dipercayai dapat membawa kemenangan. Setelah terbukti ampuh dalam peperangan, nama Ki Patih Petandaka pun melekat pada desa ini.
Sebagai bentuk penghormatan, ia membangun dua patung di depan Pura Dalem desa, yang disebut Dewa Patih Wayan dan Dewa Patih Made, yang hingga kini masih dilestarikan.
Karena peran besar Ki Patih Petandaka dan keberkahan yang dirasakan oleh banyak orang yang datang ke desa ini, nama Desa Pesandekan akhirnya diubah menjadi Desa Petandakan. Nama ini berasal dari istilah “tandak” atau “tandakin” dalam bahasa Bali, yang berarti melayani atau membantu. Dengan imbuhan “pa” dan “an,” Petandakan berarti “tempat melayani orang.”
Hingga saat ini, Desa Petandakan masih dikenal sebagai tempat yang penuh berkah, di mana banyak orang dari luar desa datang untuk memohon doa restu, membayar kaul, atau sekadar mencari ketenangan spiritual.
Selain menjadi saksi sejarah perjuangan melawan penjajahan, Desa Petandakan juga memiliki reputasi sebagai tempat dengan nilai spiritual yang tinggi. Banyak warga dan pengunjung percaya bahwa doa dan permohonan mereka di desa ini akan terkabulkan. Tradisi ini tetap hidup hingga kini, menjadikan Desa Petandakan tidak hanya sebagai destinasi sejarah, tetapi juga sebagai pusat spiritual yang dihormati.(TB)

