Denpasar Festival (Denfest) ke-18 tidak hanya menjadi panggung seni, budaya, dan ekonomi kreatif, tetapi juga arena praktik nyata pengelolaan sampah berkelanjutan. Pemerintah Kota Denpasar menargetkan tidak ada sampah yang keluar dari area festival tanpa proses pengolahan.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, sebanyak 17 komunitas lingkungan dilibatkan secara aktif dalam sistem pengelolaan sampah terpadu selama pelaksanaan Denfest 2025.
Sebagai bagian dari strategi pengurangan sampah, panitia Denfest menghadirkan mesin press sampah plastik serta mesin pengolahan kompos langsung di lokasi acara. Fasilitas ini ditempatkan di sisi timur Lapangan Puputan Badung dan dirancang terbuka agar dapat menjadi sarana edukasi bagi pengunjung.
Ketua Umum Komunitas Temanmu sekaligus Koordinator Waste Department Denfest 2025, Anak Agung Ngurah, menjelaskan bahwa sistem pengelolaan sampah ini dibangun melalui kolaborasi dan urunan antar komunitas.
“Kami menghadirkan satu unit mesin press plastik dan dua unit mesin komposting berkapasitas masing-masing 250 liter,” jelasnya, Kamis (18/12/2025).
Selain mesin pengolahan, panitia juga menyiapkan 20 unit teba modern untuk menangani sampah organik. Bak maggot turut ditempatkan di setiap stan UMKM guna mengolah sisa makanan secara langsung.
Dari total 17 komunitas yang terlibat, dua di antaranya secara khusus fokus mengolah sampah organik berupa buah-buahan menjadi eco enzyme. Langkah ini dinilai efektif dalam mengurangi residu sekaligus menghasilkan produk bernilai guna.
Pengelolaan sampah di Denfest 2025 menerapkan sistem pemilahan ketat. Sampah anorganik dipilah menjadi tujuh jenis, sementara sampah organik dipisahkan menjadi dua kategori, sehingga total terdapat sembilan jenis pemilahan.
Sistem ini diperkuat dengan penyediaan stasiun sampah berbahan kampil di 10 titik strategis di kawasan festival. Setiap titik dijaga relawan yang bertugas mengedukasi pengunjung.
Sebanyak 200 relawan dilibatkan dalam pengelolaan sampah Denfest 2025. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar SMP, SMA/SMK, hingga mahasiswa.
Para relawan dibagi ke dalam tiga shift, masing-masing berdurasi empat jam, dan bertugas dari pukul 10.00 hingga 22.00 Wita. Fokus utama mereka adalah mengarahkan pengunjung agar membuang sampah sesuai kategori yang telah ditetapkan.
“Tugas ini memang tidak ringan, tetapi pola pengelolaan ini kami harapkan dapat direplikasi di desa, desa adat, maupun berbagai event lainnya,” ungkap Koordinator Pengelolaan Sampah Denfest.
Titik kumpul pengelolaan sampah berada di kawasan Jalan Gajah Mada dan sisi timur Lapangan Puputan Badung, dengan unit khusus bernama Waste Department Eling Ring Rasa. Sampah anorganik yang terkumpul akan dipress hingga mencapai berat sekitar 140 kilogram sebelum didistribusikan ke tahap lanjutan.
Untuk sampah residu, panitia telah berkoordinasi dengan DLHK Kota Denpasar guna mencari solusi terbaik. Target utama adalah memastikan volume sampah residu seminimal mungkin dan tetap memiliki nilai guna.
Secara keseluruhan, sistem pengelolaan sampah Denfest melewati empat lapisan, mulai dari UMKM, pemeriksaan komunitas, pemilahan, hingga pemrosesan akhir.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Ni Luh Putu Riyastiti, menambahkan bahwa Denpasar Festival ke-18 digelar selama empat hari dengan total anggaran sebesar Rp 4,5 miliar.
“Tahun lalu jumlah pengunjung mencapai 62 ribu orang. Tahun ini kami menargetkan bisa melampaui angka tersebut,” ujarnya. (TB)
