Digaji Rp300 Ribu, Guru Honorer Ini Rela Jalan Kaki 6 Kilometer Setiap Hari Demi Siswa

Author:
Share

Pagi itu, sekitar pukul 06.30 WITA, Vinsensia Ervina Talluma melangkahkan kakinya meninggalkan rumah. Perjalanan yang ditempuh perempuan 32 tahun ini bukan sekadar rutinitas, melainkan pengabdian.

Setiap hari, ia berjalan sejauh enam kilometer melewati jalan berbatu, mendaki perbukitan, hingga menyeberangi sungai demi mengajar delapan murid di SDK 064 Watubala, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Yang membuat kisah ini kian mencengangkan, Vinsensia hanya menerima honor sebesar Rp300 ribu per bulan. Jumlah itu berasal dari sisa dana BOS dan tambahan dari komite sekolah.

“Memang gaji tidak cukup, tapi ini demi anak-anak,” ujar Vinsensia dengan nada tenang.

SDK 064 Watubala, tempat Vinsensia mengabdi, hanyalah sebuah bangunan sederhana. Berawal dari bekas taman baca yang dibangun mahasiswa KKN, kini ruang kayu berlantai semen itu menjadi ruang belajar seadanya.

Jumlah muridnya tak lebih dari delapan orang. Namun bagi Vinsensia, angka kecil itu bukan alasan untuk berhenti.

Hujan deras kerap menjadi penghalang. Jalan tanah yang licin bisa membuat langkahnya terhenti. Pernah, karena derasnya hujan dan sungai meluap, sekolah terpaksa diliburkan sementara.

Vinsensia mulai mengajar pada 5 Februari 2024. Sejak awal ia sudah tahu upahnya tak seberapa. Tetapi panggilan hati lebih kuat daripada angka nominal.

Fenomena ini bukanlah kasus tunggal. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat masih banyak guru honorer di pelosok menerima upah di bawah Rp500 ribu per bulan. Sebuah survei Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) bahkan menyebut 74 persen guru honorer di Indonesia bergaji di bawah upah minimum.

Di kota-kota besar, perbincangan soal kesejahteraan guru kerap muncul setiap kali rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun di pelosok seperti Watubala, kisah pengabdian justru lebih sering terdengar dibanding kisah kesejahteraan.

Kisah Vinsensia menjadi potret gamblang bagaimana ketimpangan pendidikan masih terjadi di Indonesia. Di satu sisi, pemerintah gencar mendorong transformasi digital di sekolah, tetapi di sisi lain masih ada guru yang harus berjalan kaki enam kilometer dengan honor setara ongkos harian di kota besar.

Yang bertahan hanya karena keyakinan bahwa ilmu yang mereka bagikan akan mengubah masa depan anak-anak desa. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!