Di tengah derasnya arus globalisasi, muncul sejumlah sastrawan muda Bali yang berani menulis dengan suara khasnya. Salah satu nama yang kian diperhitungkan adalah I Putu Supartika, penulis cerpen asal Karangasem yang dikenal aktif memperjuangkan eksistensi bahasa Bali sekaligus menorehkan kiprah di media nasional.
Putu Supartika lahir dan besar di Karangasem, Bali. Sejak muda ia menunjukkan minat kuat pada dunia literasi, meski secara akademis ia tercatat menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), jurusan Matematika. Pilihan studinya di bidang eksakta tak membuatnya jauh dari dunia sastra. Justru di sela-sela aktivitas kuliah, ia mulai serius menulis cerpen dan puisi.
Kecintaannya terhadap bahasa daerah membuatnya menulis banyak cerpen berbahasa Bali. Supartika ingin membuktikan bahwa bahasa ibu tidak kalah bernilai ketika dibawa ke panggung modern. Ia menulis di berbagai media, baik lokal maupun nasional, seperti Bali Post, Pos Bali, Majalah Ekspresi, hingga rubrik cerpen di harian Kompas.
Supartika termasuk produktif. Pada 2014 ia merilis kumpulan cerpen berbahasa Bali berjudul “Yen Benjang Tiang Dados Presiden” (Jika Nanti Saya Jadi Presiden). Buku ini menjadi salah satu tonggak penting sastra Bali modern karena hadir dengan tema-tema segar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.
Selain itu, ia juga menerbitkan antologi “Joged lan Bojog Lua ane Setata Ngantiang Ulungan Bulan rikala Bintange Mekacakan ing Langit” atau dalam bahasa Indonesia berarti Penari Joged dan Monyet Betina yang Selalu Menunggu Jatuhnya Rembulan ketika Bintang Bertaburan di Langit. Buku ini berisi 17 cerpen yang menampilkan gaya khas Supartika: lugas, kadang absurd, tapi sarat kritik sosial.
Tak hanya berhenti di karya lokal, Supartika berhasil menembus Kompas pada tahun 2016 dengan karyanya yang dianggap memiliki kekuatan narasi dan relevansi sosial. Salah satu cerpennya, “Rumah yang Selalu Berbau Busuk”, pernah dibahas dalam ulasan Kompas sebagai karya yang mengangkat realisme sosial dengan tajam.
Supartika bukan hanya menulis, ia juga aktif membuka ruang bagi penulis lain. Sejak 2016 ia menggagas Suara Saking Bali, sebuah majalah digital sastra berbahasa Bali. Berawal dari blog pribadi, Suara Saking Bali berkembang menjadi e-majalah yang memuat puisi, cerpen, esai, hingga prosa modern berbahasa Bali.
Majalah ini menjadi medium penting bagi banyak penulis muda yang kesulitan mencari wadah publikasi. Dengan konsistensi menerbitkan karya-karya baru, Supartika berhasil menjaga ekosistem sastra Bali agar tetap hidup di tengah dominasi media berbahasa Indonesia dan asing.
Selain itu, ia juga sering terlibat menjadi pembicara dalam seminar, diskusi maupun workshop penulisan cerpen berbahasa Bali. Dalam sesi pelatihan, Supartika menekankan pentingnya teknik bercerita, pemilihan tema, hingga gaya bahasa yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi.
Cerpen-cerpen Supartika banyak mengangkat persoalan sosial yang akrab di masyarakat Bali: mulai dari kehidupan pedesaan, dinamika tradisi, konflik antarorganisasi, hingga perubahan akibat pariwisata. Ia mampu menghadirkan humor, kritik, sekaligus kegetiran dalam satu rangkaian cerita.
Bahasa yang ia gunakan pun khas—ringkas, mudah dipahami, tapi tetap kaya dengan nuansa budaya. Perpaduan antara nilai tradisi dan tantangan modern menjadikan cerpen-cerpennya relevan bagi pembaca lintas generasi.
Mampu menembus seleksi cerpen Kompas tentu bukan hal mudah. Rubrik cerpen Minggu Kompas dikenal ketat dan hanya memuat karya dengan kualitas tinggi. Fakta bahwa Supartika bisa masuk buku Cerpen Pilihan Kompas beberapa kali yang menunjukkan bahwa suaranya, meskipun lahir dari ruang lokal Bali, punya daya universal.
Dengan segala kiprah yang ia jalani, I Putu Supartika kini dianggap sebagai salah satu wajah penting sastra Bali modern. Ia menulis dengan konsistensi, mengelola ruang publikasi untuk penulis lain, dan terus mendorong bahasa Bali tetap hidup melalui karya sastra.
Kehadirannya di media nasional sekaligus menjadi pengingat bahwa akar lokal bisa memberi kontribusi besar bagi khazanah sastra Indonesia. Bagi banyak penulis muda Bali, Supartika adalah teladan: bahwa berangkat dari bahasa ibu pun, karya mereka bisa melampaui batas pulau bahkan negara. (TB)
