Di Bali, siklus perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma tidak serta-merta usai saat matahari terbenam di Hari Raya Kuningan. Rangkaian panjang perayaan tersebut baru benar-benar mencapai garis finis pada hari yang disebut Buda Kliwon Pegatwakan (atau Pegat Warah).
Jatuh pada wuku Pahang—tepat 35 hari setelah Galungan—hari ini memegang peranan krusial secara filosofis: sebagai penanda berakhirnya masa tapa brata (pengendalian diri) yang telah dijalani umat Hindu selama 42 hari penuh.
Makna “Putusnya” Sebuah Janji
Secara etimologi, Pegatwakan berasal dari kata “Pegat” yang berarti putus atau selesai, dan “Wakan” atau “Warah” yang bermakna pembicaraan atau wara-wara. Dalam konteks spiritual, ini dimaknai sebagai “putusnya” atau selesainya masa pengekangan diri dan pemusatan pikiran suci.
Selama rentang waktu dari Sugihan Jawa hingga Buda Kliwon Pahang, umat Hindu sejatinya berada dalam periode suci. Pegatwakan menjadi momen transisi di mana umat kembali menjalani kehidupan duniawi seperti biasa, namun dengan bekal kesucian dan kekuatan batin yang telah dihimpun selama rangkaian hari raya.
Ritual ‘Ngabut’ Penjor: Mengembalikan Kesuburan
Ciri paling kasatmata dari hari Pegatwakan adalah pemandangan di sepanjang jalanan Bali yang mulai “bersih” dari lengkungan janur. Pada hari ini, Penjor Galungan yang telah berdiri gagah selama lebih dari satu bulan akan dicabut (kabut).
Namun, proses ini bukan sekadar aktivitas bersih-bersih. Mencabut penjor memiliki tata cara sakral:
- Matur Piuning: Sebelum dicabut, umat menghaturkan sesajen (biasanya canang sari) di pangkal penjor sebagai tanda penghormatan dan pemberitahuan bahwa rangkaian upacara telah usai.
- Pralina (Penyucian): Hiasan penjor yang terbuat dari bahan alam tidak dibuang sembarangan, melainkan dibakar.
- Simbol Kesuburan: Abu sisa pembakaran tersebut sering kali dimasukkan ke dalam kelapa gading muda (bungkak) atau langsung ditanam di pekarangan rumah (sering kali di belakang pelinggih/Sanggah Rong Tiga).
Tindakan menanam abu penjor ini dipercaya sebagai simbol menanam kembali benih kemakmuran dan kesuburan, dengan harapan agar limpahan rezeki dan hasil bumi terus terjaga hingga perayaan Galungan berikutnya.
Harapan akan Umur Panjang
Secara ritual, upacara pada Buda Kliwon Pegatwakan ditujukan kepada Sang Hyang Tunggal. Banten atau sarana upacara yang khas pada hari ini adalah Sesayut Dirgayusa.
Sesuai namanya, Dirgayusa bermakna umur panjang. Melalui sarana ini, umat memohon anugerah kesehatan dan usia yang panjang agar dapat bertemu kembali dengan hari raya Galungan dan Kuningan di enam bulan mendatang (210 hari kemudian).
Pegatwakan bukan sekadar penutup, melainkan sebuah titik koma; jeda sejenak sebelum roda spiritual Bali kembali berputar mempersiapkan siklus berikutnya.
