Mengenal Nyepi Segara di Nusa Penida, dari Makna, hingga Pelaksanaannya

Author:
Share

Di antara gemerlap pariwisata laut dan atraksi bahari Pulau Nusa Penida, terdapat satu ritual tahunan yang melambangkan kesucian, keheningan, dan hubungan spiritual manusia dengan laut: Nyepi Segara, atau sering disebut juga Nyepi Laut.

Ritual ini tidak sekadar bentuk penghormatan kepada Dewa Baruna (dewa laut), tetapi sekaligus wujud kearifan lokal yang mengajak laut “beristirahat” demi menjaga keseimbangan ekosistem.

Nyepi Segara telah dipraktikkan oleh masyarakat Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Ceningan sejak era pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Klungkung—dipercaya secara turun-temurun untuk menjaga harmoni antara manusia dan laut.

Menurut kajian akademik, ritual ini merupakan wujud kearifan lokal dalam pengelolaan pesisir dan konservasi laut melalui tradisi agama. Kelestarian laut menjadi bagian dari nuansa religius dalam budaya Hindu Bali setempat.

Nyepi Segara dilaksanakan setiap tahun pada Purnama Sasih Kapat (bulan keempat kalender Bali), yang umumnya jatuh sekitar September–Oktober.

BACA JUGA  Desa Adat Batur Gelar Ngusaba Dimel, Kelilingi Gunung Batur, Ini Maknanya

Tahun 2025 misalnya, ritual ini dijadwalkan berlangsung Selasa, 7 Oktober 2025, pukul 06.00 WITA hingga 06.00 WITA keesokan harinya.

Dalam beberapa sumber, Nyepi Segara juga disebut dilaksanakan selama 12 jam (06.00–18.00 WITA), tergantung adat lokal tertentu.

Makna Filosofis & Fungsi Sosial-Ekologi

  1. Pemuliaan Dewa Baruna

Nyepi Segara adalah bentuk penghormatan kepada Dewa Baruna, manifestasi Tuhan yang menguasai laut. Masyarakat meyakini bahwa pada hari itu Dewa Baruna melakukan tapa yoga (meditasi laut), sehingga manusia dilarang mengganggu.

  1. Istirahat Laut & Pemulihan Ekosistem

Semua aktivitas laut—penangkapan ikan, wisata bahari, transportasi laut—dihentikan selama 24 jam penuh. Dengan demikian, ekosistem laut mendapat waktu “beristirahat” dan kesempatan untuk regenerasi.

  1. Kearifan Lokal & Konservasi

Nyepi Segara menjadi bagian dari visi masyarakat dalam menjaga laut sebagai sumber penghidupan lama. Ritual ini turut menjadi landasan pembentukan zonasi konservasi perairan.

  1. Simbol Harmoni Lintas Dimensi
BACA JUGA  Makna Siwaratri di Era Digital, PHDI Bali Sebut 'Jagra' Bukan Sekadar Begadang Main HP

Nilai Tri Hita Karana — hubungan antara manusia dan Tuhan, manusia dengan sesama, manusia dan lingkungan — juga terejawantah lewat Nyepi Segara. Dengan menghentikan aktivitas laut, masyarakat mewujudkan keseimbangan alam.

Berikut rangkaian umum dalam Nyepi Segara:

Ngusaba / Pengusapan Laut: satu atau dua hari sebelumnya dilakukan ritual persembahyangan di pura pesisir.

Amati Segara (Amati Laut): seluruh aktivitas laut dihentikan—termasuk penyeberangan, melaut, snorkeling, menyelam, berenang, dan aktivitas wisata bahari.

Hening & Doa di Pesisir: masyarakat melaksanakan doa bersama, meditasi pesisir atau pantai dalam keheningan.

Penyucian Laut: setelah Nyepi Segara, dilakukan ritual pembersihan laut dan pelarungan sesajen atau tirta ke laut sebagai ungkapan syukur dan penghormatan.

Pakaian Sopan: saat mengikuti ritual masyarakat biasanya mengenakan sarung dan baju sederhana yang menutupi tubuh sesuai adat setempat.

BACA JUGA  Garapan Mystical of Lotus and Gayatri Tampilkan Pesona Bali di CityNet Asia Pacific ke-45

Larangan & Pantangan

Untuk menjaga kesakralan dan efektivitas ritual, beberapa larangan diberlakukan:

Larangan aktivitas laut (melaut, penyeberangan, snorkeling, menyelam) selama 24 jam penuh.

Tidak ada kapal berlayar ke/dari Nusa Penida selama pelaksanaan Nyepi Segara.

Tidak boleh mengganggu keheningan laut—dilarang suara keras, getaran, aktivitas yang mengusik laut.

Beberapa desa adat mengenakan sanksi adat (denda, upacara penebusan) bagi pelanggar ritual laut.

Nyepi Segara bukan sekadar ritual keagamaan lokal. Ia menyatukan nilai spiritual Hindu Bali dengan kesadaran ekologis yang sangat relevan di zaman sekarang. Melalui hening laut satu hari penuh, masyarakat Nusa Penida menunjukkan bahwa laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ruang sakral yang harus dihormati. Agar tradisi ini tetap lestari, perlu dihargai dengan kesadaran kolektif dan dukungan lintas elemen—antara umat, adat, pemerintah, dan wisatawan. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!