Perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali: Makna, Waktu, dan Cara Pelaksanaannya

Author:
Share

Setiap umat Hindu di Bali mengenal dua hari penting menjelang Hari Raya Galungan, yaitu Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Meski terdengar mirip, keduanya memiliki makna, waktu, dan pelaksanaan yang berbeda. Dalam ajaran Hindu Bali, dua hari ini menjadi simbol keseimbangan antara penyucian alam semesta (bhuana agung) dan penyucian diri manusia (bhuana alit).

Artikel ini akan membahas secara lengkap perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali menurut tradisi Hindu Bali, termasuk makna spiritual dan ritual yang menyertainya.

Waktu Pelaksanaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

Perayaan dua hari suci ini dilaksanakan berdasarkan kalender Bali menjelang Galungan.

Sugihan Jawa jatuh pada Kamis Wage Wuku Sungsang.
Hari ini disebut juga sebagai waktu pembersihan alam semesta dan tempat suci atau makrokosmos.

Sugihan Bali dilaksanakan sehari setelahnya, yaitu Jumat Kliwon Wuku Sungsang.
Fokusnya adalah pada penyucian diri manusia, baik secara lahir maupun batin.

Kedua hari ini menjadi bagian dari persiapan umat Hindu dalam menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, dua perayaan besar tentang kemenangan Dharma melawan Adharma.

BACA JUGA  Kasus Tuberkulosis di Denpasar Capai 1.601, Lampaui Target Nasional

Makna Filosofis Sugihan Jawa

Sugihan Jawa memiliki makna utama sebagai pembersihan bhuana agung atau dunia luar manusia.
Pada hari ini, umat Hindu melakukan penyucian terhadap lingkungan sekitar, pura, bangunan suci, dan segala hal yang berkaitan dengan alam semesta.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa Sugihan Jawa adalah pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh, artinya “hari penyucian para dewa dan tempat suci.”

Ritualnya biasanya dilakukan dengan membersihkan area suci, mengganti sarana upacara, menyiapkan banten, dan melakukan persembahyangan di pura.

Makna filosofisnya adalah agar manusia senantiasa menjaga kesucian alam dan lingkungan sebagai tempat bersemayamnya energi ilahi.

Makna Filosofis Sugihan Bali

Berbeda dengan Sugihan Jawa, Sugihan Bali berfokus pada pembersihan diri (bhuana alit).
Hari ini menjadi momen bagi setiap individu untuk melakukan penglukatan, meditasi, dan introspeksi batin.

Secara simbolik, Sugihan Bali mengingatkan manusia untuk menata pikiran, perkataan, dan perbuatan agar kembali selaras dengan jalan kebenaran (Dharma).

Beberapa umat Hindu melakukan ritual mandi suci (melukat), sembahyang khusus di rumah, dan mempersembahkan banten pejati untuk memohon penyucian lahir batin.

BACA JUGA  800 Jenis Tanaman Obat dan Keperluan Upacara Ditanam di Besakih, Lahan Seluas 4,2 Hektar

Dengan demikian, Sugihan Bali melengkapi makna Sugihan Jawa — karena setelah alam disucikan, manusia pun harus menyucikan dirinya agar tercipta keseimbangan spiritual.

Perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

Perbedaan Antara Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

Secara garis besar, perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali terletak pada waktu pelaksanaan, objek penyucian, dan makna spiritualnya.

Berikut penjelasan lengkapnya:

  1. Waktu Pelaksanaan
    Sugihan Jawa dilaksanakan pada Kamis Wage Wuku Sungsang, sedangkan Sugihan Bali dilakukan pada Jumat Kliwon Wuku Sungsang, sehari setelahnya.
  2. Fokus dan Tujuan
    Sugihan Jawa berfokus pada penyucian lingkungan, pura, dan tempat suci (bhuana agung).
    Sementara Sugihan Bali lebih menekankan pada penyucian diri manusia (bhuana alit).
  3. Makna Spiritual
    Sugihan Jawa mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dan keharmonisan alam semesta, sedangkan Sugihan Bali menekankan pembersihan pikiran, perkataan, dan perbuatan.
  4. Kegiatan Ritual
    Pada Sugihan Jawa, umat melakukan pembersihan pura dan persiapan sarana upacara.
    Pada Sugihan Bali, umat biasanya melakukan sembahyang pribadi dan melukat untuk membersihkan diri secara spiritual.
  5. Keseimbangan Kosmis
    Kedua hari ini saling melengkapi. Sugihan Jawa melambangkan penyucian dunia luar (makrokosmos), sedangkan Sugihan Bali melambangkan penyucian dunia dalam (mikrokosmos).
BACA JUGA  Biodata dan Profil Ayu Puspa Anggraeni Putri, Konten Kreator Bali yang Viral Berkat Tren gaya Kim Seon Ho

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah dua ritual yang saling melengkapi, bukan bertentangan.

Kesalahan Umum dalam Penafsiran

Sebagian masyarakat kerap mengira Sugihan Jawa diperuntukkan bagi masyarakat keturunan Jawa atau Majapahit, sedangkan Sugihan Bali bagi masyarakat Bali Aga.
Namun, pandangan tersebut tidak benar.
Keduanya justru merupakan ajaran universal dalam Hindu Bali, yang menekankan keseimbangan antara manusia dan alam, bukan identitas etnis.

Nilai Spiritualitas dan Relevansi di Masa Kini

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, makna Sugihan Jawa dan Sugihan Bali tetap relevan.
Keduanya mengingatkan umat Hindu agar tidak hanya fokus pada kebersihan fisik, tetapi juga pembersihan batin dan spiritual.

Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan ketulusan hati, manusia diyakini akan mampu menjalani kehidupan yang damai, seimbang, dan penuh kebijaksanaan. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!