Ramai perbincangan mengenai imbauan PLN UP3 Bali Utara terkait jarak aman pemasangan penjor saat Hari Raya Galungan mendapat tanggapan langsung dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali.
Polemik yang sempat menjadi sorotan warganet itu muncul setelah PLN mengimbau masyarakat menjaga jarak penjor minimal 2,5 meter dari jaringan listrik, atau idealnya 3 meter, terutama memasuki musim penghujan.
Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, menyerukan agar masyarakat tidak terus memperuncing perdebatan dan kembali memaknai Galungan dengan suasana damai. Ia menegaskan bahwa tradisi pemasangan penjor sebaiknya dilakukan seperti biasanya, sebagaimana umat melaksanakannya enam bulan sebelumnya.
“Sudah cukup, jangan diperpanjang. Mari jalani Hari Raya Galungan dengan hati yang tenteram,” ujar Kenak, Minggu (16/11).
Kenak menekankan bahwa umat Hindu telah memahami tata cara pemasangan penjor dengan benar, termasuk memastikan faktor keamanan. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan bambu lapuk yang berpotensi patah dan membahayakan lingkungan sekitar.
“Lakukan seperti sebelumnya. Umat sudah paham. Yang penting utamakan keselamatan diri sendiri dan orang lain,” tegasnya.
Ia juga menanggapi berbagai komentar di media sosial yang menolak memasang penjor atau bahkan berencana memasangnya di tengah jalan karena salah paham terhadap imbauan PLN. Kenak menegaskan bahwa penjor Galungan tetap harus dipasang sesuai tradisi dan nilai sakralnya.
“Penjor Galungan adalah penjor upacara, lengkap dengan pala bungkah, pala gantung, dan sarana pelengkap. Jadi tetap menjor seperti biasa,” ujarnya.
Meski memahami maksud PLN yang ingin memastikan keselamatan masyarakat, Kenak berharap imbauan seperti ini dapat disampaikan dengan koordinasi yang lebih matang bersama pemuka adat atau agama.
“Tujuannya sudah baik, untuk keamanan bersama. Namun alangkah lebih elok bila ada koordinasi terlebih dahulu sehingga penyampaiannya lebih halus dan tidak menimbulkan kegaduhan,” katanya.
Dengan seruan ini, PHDI Bali berharap masyarakat kembali fokus pada esensi Hari Raya Galungan: menjaga keharmonisan, memperkuat sradha bakti, dan melanjutkan tradisi secara bijak tanpa mengabaikan keselamatan. (TB)
