Dalam siklus kalender Pawukon Bali, terdapat hari-hari suci yang sarat makna spiritual sekaligus filosofi hidup. Salah satunya adalah Rahina Sabuh Mas, yang jatuh setiap Anggara Wage Wuku Sinta, tepat sehari setelah Soma Ribek dan tiga hari pasca Hari Saraswati.
Upacara ini dirayakan setiap 210 hari sekali, menandai kelanjutan dari perayaan ilmu pengetahuan menuju penghormatan terhadap kekayaan dan kesejahteraan hidup.
Secara harfiah, Sabuh Mas berarti “tumpukan emas yang suci”. Namun, makna sejatinya jauh lebih dalam. Masyarakat Bali memaknainya sebagai wujud syukur atas harta benda yang dimiliki, sekaligus pengingat bahwa segala bentuk kekayaan—baik berupa ilmu, benda berharga, maupun hasil usaha—adalah titipan dari Sang Hyang Widhi.
Dalam lontar Paselang dijelaskan bahwa seluruh milik manusia sesungguhnya hanyalah “druwe Sang Apaselang”, atau pinjaman dari Yang Maha Kuasa.
Ritual Sabuh Mas biasanya dilakukan dengan mempersembahkan banten khusus seperti suci, daksina, sesayut amrta sari, canang lenga wangi, hingga burat wangi. Persembahan ini diletakkan di sanggah atau piyasan sebagai bentuk penghormatan kepada Bhatara Mahadewa, manifestasi Tuhan yang melambangkan kemakmuran, emas, perak, dan permata. Dengan demikian, kekayaan tidak dilihat sekadar sebagai harta duniawi, tetapi sebagai sarana dharma yang mesti digunakan secara bijak.
Sabuh Mas juga memiliki keterkaitan erat dengan Hari Saraswati. Jika Saraswati menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai sumber kehidupan, maka Sabuh Mas menegaskan hasil dari ilmu itu sendiri: kesejahteraan. Filosofi ini mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukan hanya materi, melainkan pengetahuan yang melahirkan kemakmuran.
Dalam perkembangannya, Sabuh Mas juga melahirkan ekspresi budaya baru, salah satunya Tari Rejang Sabuh Mas di Desa Batuan, Gianyar. Tarian sakral ini menjadi identitas banjar setempat sekaligus media penyucian diri dalam setiap upacara di Pura Dalem Alas Arum. Di sisi lain, istilah Sabuh Mas juga diabadikan dalam arsitektur desa adat, misalnya Wantilan Sabuh Mas yang direnovasi menjadi pusat kegiatan upacara dan sosial masyarakat.
Dengan segala makna dan simbolisme yang terkandung, Sabuh Mas bukan sekadar hari raya kecil dalam siklus Pawukon. Ia adalah refleksi mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya memandang kekayaan: bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai anugerah yang harus dipelihara, disyukuri, dan dipergunakan untuk kebaikan bersama. (TB)
