Setelah 36 Tahun, Dadia Dukuh Pulasari Selumbung Gelar Karya Agung: Gunakan Tirta dari 32 Pura

Author:
Share

Suasana khidmat menyelimuti Banjar Anyar, Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Karangasem pada Kamis (2/4). Bertepatan dengan Purnama Kadasa, Pura Dadia Dukuh Pulasari, Sentana Dalem Tarukan, menggelar upacara besar yang telah dinantikan selama puluhan tahun.

Upacara bertajuk Karya Nubung Daging, Ngenteg Linggih, lan Mupuk Pedagingan ini merupakan momen bersejarah bagi krama setempat, mengingat karya serupa terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1990 atau 36 tahun silam.

Prawartaka Karya, Jero Mangku Gede Darma Sumija, menjelaskan bahwa upacara kali ini mengambil tingkatan Utamaning Utama. Hal ini terlihat dari detail pedagingan (sari pemujaan yang ditanam di dasar bangunan suci) yang sangat lengkap dan sakral.

BACA JUGA  Teruna Teruni Denpasar Ngayah di Pura Besakih, Wujudkan Bhakti dan Pelestarian Budaya

Detail Pedagingan: Menggunakan 4.000 keping uang kepeng, emas (kuali, capung, jarum), tembaga, perak, besi, hingga perlengkapan pras penyeneng lengkap.

Wewalungan: Menggunakan kerbau sebagai sarana utama utuk menjaga kesucian ritual.

Pemuput: Upacara dipuput langsung oleh Ida Pedanda Siwa dan Ida Pedanda Budha.

“Tujuan upacara ini adalah membangkitkan energi positif dan menjaga keseimbangan antara Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Kami berharap seluruh keturunan hingga anak cucu mendapat keselamatan,” ujar Jero Mangku Darma Sumija.

Persiapan karya ini sejatinya telah dimulai sejak 4 November 2025 melalui prosesi
ngaturang piuning dan majaya-jaya. Sebelum mencapai puncak acara, panitia telah melakukan prosesi Nuur Tirta (memohon air suci) ke 32 pura, termasuk Gunung Agung, Pura Besakih, Pura Lempuyang, hingga Pura Kawitan di Pulasari, Bangli.

BACA JUGA  Sejarah Desa Culik Karangasem, Dulu Bernama Culidra, Berkaitan dengan Bhatari Danuh

Rangkaian kegiatan meliputi:

  1. Rsi Gana & Melasti: Pembersihan alam semesta dan penyucian sarana upacara.
  2. Mapepada Wewalungan: Penyucian hewan kurban.
  3. Puncak Karya: Digelar tepat pada Purnama Kadasa (2 April 2026).
  4. Nyejer: Upacara akan berlangsung hingga 18 April 2026.
  5. Nyegara Gunung: Prosesi akhir untuk menyatukan energi langit dan bumi sebagai rasa syukur.

Keliang Dadia, I Made Mester, didampingi I Komang Sudiarta, menyebutkan bahwa kesuksesan acara ini berkat gotong royong 70 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, 34 KK berdomisili di desa, sementara 36 KK lainnya merupakan warga perantauan.

BACA JUGA  Sejarah Desa Ban Karangasem, dari Hutan Belantara Menuju Komunitas yang Tangguh di Lereng Gunung Agung

“Dana bersumber dari iuran anggota dadia, punia (sumbangan sukarela), serta upaya penggalian dana secara mandiri,” ungkap Made Mester.

Hajata besar ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya: Wayan Jarta (Ketua Umum PP Para Gotra Santana Dalem Tarukan/PGSDT), Pandu Prapanca Lagosa (Wakil Bupati Karangasem), I Nyoman Parta (Anggota DPR RI), dan I Gede Dana (Mantan Bupati Karangasem). (TB)

       

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!