Nama Bram Hendra Betaubun, petinju berdarah Maluku yang dijuluki The Killer, kembali mencuat setelah pertarungannya menghadapi Ketua Pertina Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah dalam ajang No Drama Fight Reborn di Sunset Bar, Seminyak, Badung, Minggu (24/8/2025).
Meski kalah, Bram tetap menjadi sorotan berkat rekam jejak panjangnya di dunia tinju nasional maupun internasional. Bram lahir di Tual, Maluku Tenggara, 24 Oktober 1991.
Perkenalannya dengan tinju dimulai sejak duduk di SMP Satu Atap Hollat pada tahun 2006. Dari sana, ia melanjutkan pendidikan di SMA Satu Atap Hollat, sambil terus menekuni olahraga pukul-memukul itu.
Bram kecil langsung menunjukkan bakat besar. Ia meraih medali perak pertamanya pada ajang Gubernur Cup I, mewakili tim Maluku. Tak berhenti di sana, sederet prestasi emas ia kantongi, antara lain di Gubernur Cup II 2015, Pra PON 2015, Kejurnas Bangka Belitung 2016, serta PON 2016.
Nama Bram semakin melambung ketika dipercaya memperkuat kontingen Indonesia di SEA Games 2017 Kuala Lumpur dan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Ia bahkan dipersiapkan untuk SEA Games 2021 di Hanoi, Vietnam.
Sejak bergabung dengan Kabupaten Bogor pada 2018, Bram terus mempersembahkan prestasi. Tercatat ia menyumbang emas di Porda, Kejurnas 2019, dan Pra PON 2019 di Ternate, Maluku Utara.
Bram juga sukses menyabet dua medali emas PON, yakni di Papua (2023) dan Aceh-Sumut (2024). Catatan ini menegaskan statusnya sebagai salah satu petinju nasional terbaik.
Puncak pertarungan Bram di tahun 2025 terjadi dalam ajang No Drama Fight Reborn melawan De Gadjah. Duel berlangsung sengit hingga ronde keempat. Sejak awal, De Gadjah tampil tenang dengan serangan jab dan uppercut.
Di ronde ketiga, Bram mulai kehilangan momentum setelah mengalami cedera pada bahu kiri. Memasuki ronde keempat, pukulan bertubi-tubi dari De Gadjah masuk tepat di area cedera, membuat Bram tidak mampu melanjutkan pertandingan.
“Saya banyak berterima kasih kepada No Drama karena lewat sini saya pertama kali merasakan kalah. Saya petinju sudah belasan tahun, tapi saya malam ini menerima kekalahan. Saya mungkin sudah terlalu banyak memandang enteng sama kakak ketua,” kata Bram usai laga.
Sesuai perjanjian saat face off, Bram juga menyerahkan 200 USD kepada De Gadjah karena lawannya mampu bertahan lebih dari dua ronde.
Kekalahan ini diakui Bram sebagai pengalaman penting dalam kariernya. Meski kalah, ia tetap menjunjung tinggi sportivitas dan menyampaikan rasa hormat kepada lawannya.
Di sisi lain, De Gadjah menegaskan bahwa kemenangan ini adalah laga terakhirnya. Ia menggantung sabuk dan menutup dengan pesan untuk generasi muda agar menyalurkan energi lewat jalur resmi.
“Satu lagi, jangan pernah meremehkan lawanmu,” pesan De Gadjah menutup acara yang disaksikan ribuan penonton secara langsung maupun daring. (TB)