![]() |
Ist |
Bali
dikenal sebagai pulau seribu pura. Dari ujung barat Bali hingga ujung timur,
dari ujung utara hingga selatan dibangun banyak pura. Lazimnya saat menyebut
kata pura, akan terbayang ada bangunan dan juga pelinggih.
Namun
berbeda dengan pura di tengah hutan di Gianyar ini. Di pura ini tak ada
pelinggih. Kok bisa? Berikut kisahnya.
Pura
di tengah hutan ini bernama Pura Sabang Daat. Lokasi pura ini berada di
perbatasan Kabupaten Gianyar dan Bangli, atau tepatnya terletak di kawasan Desa
Pakraman Puakan, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali.
Dilansir
dari info.smkratnawartha.sch.id,
pemangku Pura Sabang Daat, Jero Mangku Puseh Desa Puakan menjelaskan, Pura
Sabang Daat terdiri atas 2 kata yaitu, Sabang dan Daat. Kata Sabang memiliki
makna Saba, yaitu pertemuan orang penting. Sedangkan Daat berarti pingit atau
sakral. Sehingga Sabang Daat berarti pura yang diperuntukan untuk pertemuan
pingit.
Konon
dahulu sebelum upacara keagamaan dilakukan, disinilah dilaksanakan pertemuan
terlebih dahulu oleh para sulinggih, pemangku, dan orang penting lainnya.
Tak
seperti pura yang kita kenal saat ini, Pura Sabang Daat yang berada di tengah
hutan merupakan pura yang tanpa memiliki bangunan palinggih. Melainkan masih
mempertahankan yang ada sejak jaman dahulu, yakni sebuah asagan di
tengah-tengah hutan.
Dengan
kondisi ini, pura ini pun dikenal dengan pura yang tanpa pelinggih. Di
dalam pura hanya ada tempat untuk meletakkan sesajen.
Letaknya
berada di tengah hutan dan yang terlihat hanya pohon yang ditutupi kain putih
kuning dan ada asegan tempat menaruh sesajen saja. Pura Sabang Daat ini
biasanya tempat berkumpul beberapa pelawatan berupa Barong dan Rangda sebelum
ngunya di masing masing desa adatnya.
Diketahui,
pura ini berdiri sejak 2000 tahun sebelum Masehi. Dan sejak berdiri memang tak
ada pelinggih sehingga sampai saat ini masih dipertahankan seperti itu.
Meskipun
secara kasat mata tak ada bangunan pelinggih, namun secara niskala atau gaib di
kawasan ini konon sudah ada bangunan pura yang amat megah dan mewah. Ada
bangunan Padasana yang sangat besar berbahan emas.
Di
areal pura yang luas keseluruhannya 2 hektar, ini hanya terdiri dari jeroan dan
jaba sisi. Bagian jeroan disengker menggunakan turus hidup seluas 6 are.
Terdapat lingga yoni dijeroan pura yang muncul di permukaan tanah. Dan yang
membuat aneh sekaligus unik adalah, areal jeroan pura lokasinnya rendah,
sedangkan dipinggirnya lebih tinggi. Meski hujan dan sudah bertahun-tahun tetap
saja rendah, semestinya aliran air membawa tanah ke jeroan pura. Dan nyatanya
tetap rendah dan sekelilingnya tinggi seperti dibatasi sebuah tembok.
Pura
Sabang Daat diempon 35 desa pakraman. Selain dari Desa Taro juga dari wilayah
Ubud dan Kintamani yang ikut menjadi pangempon. Sehingga semua sesuhunan dari
35 desa pangempon tersebut nangkil untuk matur piuning sebelum ngunya di
desanya masing-masing, salah satunya adalah desa Pakraman Yehtengah. Biasanya
35 desa pangempon tangkil di hari Raya Galungan (Galungan, Umanis Galungan,
Pahing Galunga, Pon Galungan, Wage Galungan) tergantung dari desa pangemon
masing-masing.
Selain
itu, ada juga hal unik di pura ini yakni tidak diperbolehkan menggunakan
gambelan dan genta, juga tidak boleh sulinggih yang muput upacara. Bahkan
diseluruh Desa Pakraman Puakan tidak diperkenankan yang muput upacara
sulinggih. Melainkan Jero Mangku setempat, mengingat sudah terdapat Pura
Linggih Ida Rsi Markandya di Pura Sabang Daat.
Sebesar
apapun upacara di sini, tidak ada sulinggih yang muput, yang muput hanya
pemangku saja. Karena keyakinan masyarakat di sini semuanya sudah ada, tinggal
nunas tirta saja di Pura Sabang Daat kemudian dihaturkan oleh pemangku.
Warga
setempat meyakini di Pura Sabang Daat merupakan linggih Ida Rsi Markandya.
Tempat ini juga diyakini sebagai tempat untuk memohon berkah. Tidak sedikit
warga yang sembuh setelah nunas tirta atau obat, termasuk bagi pasangan yang
lama belum dikaruniai keturunan.
Warga
di lingkungan Desa Pakraman Puakan ini sudah banyak membuktikan. Ada yang sakit
tidak sembuh-sembuh, setelah nunas tamba di pura ini bisa sembuh. Begitu juga
yang lama belum memiliki anak, berhasil juga setelah nunas tamba di Pura Sabang
Daat. Nunas tamba dan keturunan itu, biasanya berawal dari firasat dan petunjuk
secara niskala. Untuk sarana yang dihaturkan tidak mematok harus begini begitu.
Tergantung pamedek, sesuai kemampuan dan keyakinan masing-masing. Semua kembali
kepada keyakinan dan ketulusan. (TB)