UWRF 2026 Umumkan 10 Emerging Writers Terpilih: Suara Baru dari Ruteng hingga Jakarta

Author:
Share

Yayasan Mudra Swari Saraswati secara resmi mengumumkan sepuluh penulis terpilih dalam program bergengsi Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026, pada Selasa (13/1/2026).

Program yang telah berjalan sejak 2008 ini kembali menjadi “kawah candradimuka” bagi talenta sastra Indonesia. Kesepuluh penulis ini akan mengikuti rangkaian pembekalan intensif sebelum karya mereka diterbitkan dalam antologi tahunan dan diluncurkan pada perhelatan UWRF, 21-25 Oktober 2026 mendatang.

Tahun ini, antusiasme penulis tanah air terbilang luar biasa. Selama periode pendaftaran (5 Agustus – 29 November 2025), panitia menerima total 634 karya dari seluruh penjuru Nusantara, mulai dari Aceh hingga Papua.

Tim kurator yang terdiri dari A. Nabil Wibisana, Cyntha Hariadi, dan Siska Yuanita melakukan seleksi ketat dalam dua tahap. Dari ratusan naskah, disaring menjadi 50 besar pra-kurasi hingga akhirnya terpilih 10 nama final.

BACA JUGA  Ngaku Diiming-imingi Rp100 Triliun, Wayan Koster Tegas Tolak Pembangunan Kasino di Bali

Data panitia menunjukkan dominasi penulis perempuan sebanyak 367 orang, penulis laki-laki 256 orang, dan 11 lainnya tidak menyebutkan gender. Jawa Barat menjadi penyumbang pendaftar terbanyak, namun yang menarik adalah peningkatan signifikan partisipasi penulis dari Bali yang mencapai 40 pendaftar.

Berikut adalah sepuluh nama penulis yang berhasil lolos kurasi Emerging Writers UWRF 2026:

  • Ajen Angelina (Ruteng)
  • Arianto Adipurwanto (Lombok)
  • Carisya Nuramadea (Bogor)
  • Dhias Nauvaly (Yogyakarta)
  • Galuh Ginanti (Denpasar)
  • Hamran Sunu (Palopo)
  • IRZI (Jakarta)
  • Jein Oktaviany (Bandung)
  • Nityasa Wijaya (Gianyar)
  • R. Abdul Azis (Bandung)

Karya-karya yang terpilih tahun ini dinilai berhasil memotret dinamika Indonesia kontemporer. Tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari isu perampasan lahan, lingkungan, gender, hingga realitas masyarakat digital.

BACA JUGA  Viral Video Aksi Ngundang Leak di Bawah Jembatan Tukad Bangkung Badung

Cyntha Hariadi, salah satu kurator, menyebut bahwa cerpen-cerpen terpilih lahir dari situasi kemanusiaan yang penuh ketegangan.

“Menemukan naskah-naskah Emerging Writers sangatlah berharga karena memperkaya khazanah sastra Indonesia melalui keberagaman tema, bentuk, dan sudut pandang,” ungkap Cyntha.

Sementara itu, Ketua Dewan Kurator A. Nabil Wibisana menegaskan bahwa seleksi ini bukan sekadar mencari cerita bagus, tetapi mengenali “benih suara khas” dan ketajaman pandangan dunia penulis. Senada dengan itu, kurator Siska Yuanita memandang cerpen sebagai laboratorium kepengarangan.

“Cerpen bukan sekadar bentuk yang lebih singkat dari novel, melainkan laboratorium kepengarangan. Dalam ruang yang terbatas, setiap pilihan etis dan estetis memikul beban yang lebih besar,” ujar Siska.

BACA JUGA  Giri Prasta Ikut Arak Ogoh-ogoh Saat Buka Kasanga Festival 2025 di Denpasar

Pendiri & Direktur UWRF, Janet DeNeefe, menyambut hangat para penulis terpilih. Ia menyebut program ini sebagai investasi jangka panjang bagi regenerasi sastra Indonesia.

“Melalui pendampingan, pembelajaran, dan ruang pertemuan yang kami bangun, kami ingin memastikan suara-suara baru terus tumbuh, menemukan pembacanya, dan berkontribusi secara berkelanjutan lintas generasi,” tutur Janet.

Guna mendukung perjalanan kreatif para penulis ini, Yayasan Mudra Swari Saraswati kembali membuka program Emerging Writers Patron. Publik dapat berkontribusi mendanai penerjemahan antologi, tiket perjalanan, hingga akomodasi para penulis selama festival berlangsung, demi memperluas jejaring sastra mereka di tingkat global. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!