Koster Ancam Stop Peredaran Produk Tanpa Aksara Bali, Losmen ‘Nakal’ Jadi Sorotan

Author:
Share

Gubernur Bali, Wayan Koster, mengeluarkan peringatan tegas terkait penggunaan aksara daerah dalam kemasan produk komersial. Ia menegaskan bahwa seluruh produk yang dipasarkan di wilayah Provinsi Bali wajib menyertakan aksara Bali pada kemasannya. Jika tidak mematuhi ketentuan tersebut, produk terkait terancam tidak diizinkan beredar di Pulau Dewata.

Ultimatum ini disampaikan Gubernur Koster saat membuka perhelatan Bulan Bahasa Bali ke-VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya (Art Centre) Denpasar, Minggu (1/2/2026).

Dalam pidatonya, Koster secara khusus menginstruksikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali untuk melakukan pengawasan ketat di lapangan.

“Saya tugaskan Dinas Perindag Provinsi Bali untuk mengawasi penggunaan aksara Bali di kemasan produk. Kalau tidak pakai aksara Bali, jangan dipasarkan di Bali,” tegas Koster di hadapan para undangan.

BACA JUGA  Pemprov Bali dan Pemkot Denpasar Gelar Bursa Kerja, Buka 5.742 Lowongan di Berbagai Sektor

Tak hanya menyasar produk kemasan, Gubernur juga menyoroti sektor pariwisata, khususnya penggunaan papan nama dan identitas usaha. Menurut evaluasinya, hotel-hotel berbintang sebagian besar telah patuh terhadap regulasi penggunaan aksara Bali. Namun, pelanggaran masih kerap ditemukan pada penginapan skala kecil.

“Hotel bintang lima sudah tertib. Yang masih sering tidak tertib itu losmen-losmen,” ujarnya menyentil para pengusaha akomodasi yang belum mematuhi Peraturan Gubernur terkait tata kelola bahasa dan aksara Bali.

Koster menekankan bahwa penggunaan aksara Bali bukan sekadar hiasan visual, melainkan gerakan kolektif untuk menjaga “taksu” dan identitas Bali. Ia berharap aksara ini hadir masif di ruang publik, mulai dari kantor pemerintahan, fasilitas umum, restoran, hingga toko-toko.
Ia mencontohkan negara-negara maju di Asia yang tetap memegang teguh identitas budayanya.

BACA JUGA  Wayan Koster Terbitkan SE Nomor 7 Tahun 2025, Wisatawan Asing Wajib Punya SIM Jika Berkendara

“China, Jepang, Thailand punya aksara sendiri dan mereka maju. Leluhur kita sangat cerdas menciptakan aksara seperti ha na ca ra ka. Kita tinggal menggunakan saja, tapi justru belum tertib,” imbuhnya.

Dorong Digitalisasi Aksara di Sekolah
Sebagai upaya regenerasi, Pemerintah Provinsi Bali juga meminta Dinas Pendidikan untuk mengintensifkan penggunaan keyboard aksara Bali di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Koster membanggakan Bali sebagai satu-satunya daerah yang telah memiliki sistem keyboard aksara daerah yang lengkap secara digital.

BACA JUGA  Ratusan UMKM Lokal Disediakan Tempat Berjualan di Pura Agung Besakih Saat Karya Ida Bhatara Turun Kabeh, Ada Aturan Ketat

Adapun Bulan Bahasa Bali ke-VIII tahun 2026 ini akan berlangsung selama satu bulan penuh, mulai 1 hingga 28 Februari 2026. Acara pembukaan dimeriahkan oleh pementasan sasolahan berjudul “Japatuan ka Suargan” yang dibawakan oleh Sanggar Seni KOKAR Bali (SMKN 3 Sukawati).

Usai seremoni pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Utsawa (Festival) Nyurat Aksara Bali. Festival ini menampilkan demonstrasi penulisan aksara Bali di berbagai media, mulai dari media tradisional seperti lontar, batu, dan tembaga, hingga media modern seperti animasi digital dan kartun. (*)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!