Suasana sakral mulai terasa di Pura Kawitan Ki Pasek Badeg, Desa Adat Badeg Tengah, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.
Pada Budha Umanis Prangbakat, Rabu (16/9/2026), pasemetonan Ki Pasek Badeg melaksanakan prosesi Ngingsah dan Nyangling sebagai bagian dari rangkaian persiapan karya agung Numbung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Mepedudusan Agung, Manawa Ratna dan Balik Sumpah.
Ngingsah dan Nyangling merupakan proses penyucian beras atau galih serta berbagai perlengkapan upacara yang nantinya digunakan dalam rangkaian ritual utama.
Prosesi tersebut dipuput Ida Tapini, yakni Ida Pandita Mpu Nabe Istri Parama Sadhu Daksa Natha dari Geria Taman Kertasari Wates Tengah, Ida Pandita Mpu Nabe Istri Dukuh Jayati dari Badeg Dukuh, dan Ida Pandita Mpu Istri Satya Vimala dari Geria Taman Suranadi Wates Tengah.
Sementara Yajamana Karya adalah Ida Pandita Mpu Nabe Tri Sadhu Natha dari Griya Narmada Wates Tengah, Selat, Karangasem.
Rangkaian karya agung ini telah dimulai sejak Sukra Umanis Menail, Jumat (11/9/2026), melalui sejumlah prosesi seperti memakuh, mlaspas warung, negtegang, ngadegang Dewa Tapini, Guru Dadi, Rare Anggon, Mapangalang Sasih hingga Pengemit Karya.
Seluruh rangkaian tersebut nantinya bermuara pada puncak karya pada Saniscara Umanis Watugunung, bertepatan dengan Hari Raya Saraswati, Sabtu (31/10/2026).
Ketua Panitia sekaligus Penglingsir Dadia Taman, Jro Nyoman Sidia, mengatakan karya dengan tingkatan Madianing Utama tersebut menjadi momentum bersejarah bagi pasemetonan Ki Pasek Badeg.
Sebab, berdasarkan penelusuran para penglingsir, belum ditemukan catatan pasti mengenai kapan Pura Kawitan Ki Pasek Badeg pertama kali dibangun maupun kapan terakhir kali melaksanakan karya besar dengan tingkatan serupa.
“Melalui penelusuran para penglingsir secara turun-temurun, belum ditemukan catatan pasti kapan parhyangan ini pertama kali dibangun dan kapan pernah melaksanakan karya besar seperti ini. Namun dari penuturan para leluhur secara lisan, pura ini sudah sangat lama berdiri, dituturkan secara turun-menurun dari empat sampai lima generasi,” ujar Jro Nyoman Sidia didampingi Jro Mangku Putu Mandi dan penglingsir I Putu Merta.
Dengan memperhitungkan rentang usia antargenerasi, keberadaan pura tersebut diperkirakan telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
“Kalau dihitung perkiraannya keberadaan pura ini sudah ada sejak akhir tahun 1700-an. Namun para lingsir tidak menyebut pernah ada karya sebesar ini, hanya rutinitas pujawali setiap enam bulan atau setahun dua kali,” jelasnya.
Yajamana Karya, IPM Nabe Tri Sadhu Natha, mengatakan Ngingsah dan Nyangling merupakan salah satu tahapan dari rangkaian panjang menuju puncak karya.
Sebelumnya telah dilaksanakan mapinuning, nuasen karya hingga nanceb taring, yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai tahapan upacara lainnya.
“Setelah mlaspas warung dan negtegan, rangkaian dilanjutkan dengan ngingsah nyangeling beras pada Buda Umanis Prangbakat, molong sunari, mapepada wewalungan, mlaspas, caru Rsigana, mendem pedagingan, pawintenan lan mejaya-jaya kepada Jro Mangku serta penglingsir Ki Pasek Badeg, kemudian dilanjutkan dengan ngewacen prasasti,” paparnya.
Karya tersebut mengambil tingkatan Madianing Utama dengan sejumlah sarana dan wewalungan, antara lain makebo satu ekor, sapi satu ekor, kambing delapan ekor, kucit butuan, angsa, penyu dan asu belangbungkem.
Seluruh rangkaian akan mencapai puncaknya pada 31 Oktober 2026 melalui Ngenteg Linggih, Mepedudusan Agung, Mendem Pedagingan, Manawa Ratna serta Balik Sumpah.
Penglingsir Ki Pasek Badeg, Jro Wayan Karma didampingi I Putu Merta, mengatakan pelaksanaan karya agung ini menjadi bagian dari upaya pasemetonan menjaga hubungan dengan leluhur sekaligus merawat keberadaan Pura Kawitan.
Menurutnya, pelaksanaan karya tidak terlepas dari semangat gotong royong pasemetonan Ki Pasek Badeg yang tersebar di berbagai wilayah Bali.
“Dengan rasa syukur dan tulus, seluruh pasemetonan Ki Pasek Badeg melaksanakan rangkaian suci ini sebagai wujud bhakti dan sradha. Semua dilakukan dengan semangat ngayah, saling membantu, termasuk pembiayaan yang berasal dari urunan warga pasemetonan,” ungkapnya.
Persiapan menuju karya agung juga tidak hanya dilakukan melalui rangkaian upacara. Pura Kawitan Ki Pasek Badeg sebelumnya telah menjalani perbaikan dan renovasi secara swadaya selama kurang lebih 15 tahun.
I Putu Merta mengatakan kondisi pura sebelumnya cukup memprihatinkan akibat faktor usia dan dampak letusan Gunung Agung tahun 1963.
“Beberapa pelinggih mengalami kerusakan, namun kami masih bisa menyelamatkan peninggalan situs leluhur berupa batu kembung asli yang berasal dari sekitar Gunung Agung,” jelasnya.
Pelestarian warisan leluhur juga dilakukan terhadap naskah-naskah kuno berupa lontar, termasuk Kandan Pasek yang memuat keberadaan Ki Pasek Badeg.
Upaya tersebut dilakukan bersama Unit Lontar Universitas Udayana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melalui perawatan, alih aksara dan alih bahasa hingga diterbitkan menjadi buku berjudul Kandan Pasek.
Dengan demikian, rangkaian karya agung di Pura Kawitan Ki Pasek Badeg tidak hanya menjadi pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga jejak sejarah, tradisi dan identitas pasemetonan yang diwariskan lintas generasi.
(TB)
