Dharmacarita Warnai UDG Bali XXXIII, Anak-anak Jadi Pencerita Budaya Daerah

Author:
Share

Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 menghadirkan format baru yang menyasar langsung generasi muda. Melalui Dharmacarita, anak-anak tidak hanya menjadi penonton tradisi, tetapi tampil sebagai pencerita budaya dari daerahnya masing-masing.

Dharmacarita dikemas dalam bentuk storytelling. Peserta diminta mengangkat cerita tentang budaya, tradisi, sejarah maupun aktivitas yang hidup di lingkungan mereka.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, mengatakan konsep tersebut sengaja dihadirkan agar anak-anak terlebih dahulu mengenali budaya di lingkungan sendiri sebelum menceritakannya di atas panggung.

“Bagaimana anak-anak peserta ini bisa bercerita tentang budaya-budaya dan kegiatan yang ada di masing-masing wilayahnya,” ujar Alit Suryana saat gladi bersih UDG XXXIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Kamis (10/9).

BACA JUGA  Rute Baru Denpasar-Guangzhou Resmi Dibuka, Hingga Akhir Maret 136 Ribu Wisatawan Tiongkok datang ke Bali

Menurutnya, Dharmacarita bukan sekadar lomba bercerita. Anak-anak didorong mencari tahu cerita yang berkembang di daerahnya, memahami tradisinya, kemudian mengemasnya kembali dengan cara yang menarik.

Pendekatan tersebut menjadi warna baru dalam UDG yang selama ini lekat dengan sloka, kakawin, kidung, gaguritan dan dharmawacana.

“Di samping mereka mengikuti kegiatan ini, mereka juga peduli dengan wilayahnya, memahami wilayahnya, mungkin cerita apa yang ada di wilayah itu. Itu mereka pahami, kemudian kita lombakan lewat Dharmacarita,” katanya.

BACA JUGA  Pengamanan Diperketat di Pantai Pandawa Bali Saat Libur Lebaran

UDG XXXIII berlangsung 11–16 September 2026 di UPTD Taman Budaya Provinsi Bali dengan tema “Dharmagita Atmanam Dharma”. Kegiatan ini menghadirkan 11 bidang lomba dengan 37 kategori yang diikuti peserta dari berbagai kelompok usia.

Alit mengatakan UDG juga diarahkan tidak berhenti pada persoalan siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah keberlanjutan pembinaan dharmagita di tengah masyarakat.

“Bukan hanya tujuan kita lomba, tetapi bagaimana kita membina keberlanjutan daripada Dharma Gita ini setelah lomba,” ujarnya.

Upaya regenerasi juga dilakukan dengan melibatkan anak-anak sekolah dalam rangkaian UDG. Mereka diharapkan dapat menyaksikan langsung peserta terbaik dari kabupaten/kota dan belajar dari praktik dharmagita yang selama ini hidup di sekolah, banjar maupun desa adat.

BACA JUGA  Biodata dan Profil Dita Karang, Perempuan Indonesia Pertama di Industri K-pop, Memiliki Darah Bali

Bagi Alit, sastra menjadi salah satu fondasi penting dalam kehidupan budaya Bali.

“Sastra itu merupakan sumber dari semua kegiatan budaya yang kita laksanakan di Bali,” katanya.

Melalui Dharmacarita, sastra dan budaya tidak hanya diwariskan dalam bentuk hafalan, tetapi juga melalui cerita yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

UDG XXXIII dijadwalkan dibuka Gubernur Bali Wayan Koster, Jumat (11/9). Para peserta terbaik nantinya dipersiapkan mewakili Bali pada ajang tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 2027 di Palu, Sulawesi Tengah. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!