Ngayah di Bale Kulkul Puri Pemecutan Denpasar, Merawat Warisan Leluhur agar Tak Kehilangan Makna

Author:
Share

Merawat warisan leluhur bukan hanya soal menjaga bangunan agar tetap berdiri kokoh, tetapi juga memastikan nilai sejarah dan kebudayaan di dalamnya tidak hilang ditelan zaman.

Semangat inilah yang dibawa Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Bali bersama Dinas Kebudayaan Kota Denpasar melalui Aksi Pemeliharaan Ngayah Ring Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan di Jalan Gunung Batur, Denpasar, Sabtu (17/10).

Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan ini melibatkan penglingsir Puri Pemecutan, jajaran Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, kader Pelestari Budaya, serta mahasiswa Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pelestarian cagar budaya membutuhkan kepedulian bersama. Pemerintah, keluarga puri, komunitas, hingga generasi muda memiliki peran dalam menjaga peninggalan sejarah agar tetap lestari.

BACA JUGA  Kuota Terbatas! Hanya 35 Peserta, Ayo Daftar Program Satu Keluarga Satu Sarjana di ITB STIKOM Bali

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, didampingi Kepala Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Ni Wayan Sri Witari, mengatakan kegiatan yang digagas BPK Bali tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk merawat dan melestarikan cagar budaya di Kota Denpasar.

Menurutnya, pemeliharaan cagar budaya tidak semata-mata berfokus pada kondisi fisik bangunan. Hal yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai nilai warisan budaya dan tanggung jawab untuk meneruskannya kepada generasi berikutnya.

BACA JUGA  Sejarah Desa Padangbulia Buleleng, Dulu Pernah Jadi Pusat Kerajaan

“Kegiatan ini tidak hanya sekadar pemeliharaan fisik, tetapi juga merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran, kecintaan, dan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan serta keberlanjutan warisan budaya. Kebudayaan adalah jati diri bangsa yang harus kita jaga, kembangkan, dan wariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.

Bale Kulkul Puri Pemecutan menjadi titik kegiatan yang mempertemukan upaya pelestarian warisan sejarah dengan tradisi gotong royong masyarakat Bali.

Melalui konsep ngayah, kegiatan pemeliharaan juga membawa pesan bahwa menjaga warisan leluhur bukan semata-mata pekerjaan pemerintah atau petugas pelestarian. Kepedulian masyarakat menjadi bagian penting agar cagar budaya tetap terawat dan keberadaannya terus mendapat perhatian.

BACA JUGA  Biodata dan Profil Gede Prama, Spiritualis Asal Bali Tamatan Luar Negeri, Lengkap Perjalanan Karir

Kehadiran mahasiswa Arkeologi Universitas Udayana turut memberi ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan pelestarian secara langsung. Dengan demikian, pelestarian tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kuliah, tetapi juga menjadi kepedulian terhadap peninggalan sejarah di lingkungan sekitar.

Peringatan Hari Kebudayaan melalui aksi ngayah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang atau dibanggakan. Warisan tersebut membutuhkan perawatan berkelanjutan dan keterlibatan lintas generasi.

“Melestarikan warisan budaya adalah tanggung jawab bersama. Dengan semangat ngayah, kita rawat warisan leluhur, kita jaga identitas budaya Bali,” imbuhnya.

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!