Melasti di Padanggalak Denpasar, Sampah Jadi Tanggung Jawab Desa Adat

Author:
Share

Ribuan umat Hindu dari berbagai desa adat di Kota Denpasar memadati Pantai Padanggalak, Kesiman, pada Senin (16/3) pagi untuk melaksanakan prosesi Melasti serangkaian Hari Raya Nyepi Saka 1948.

Namun, ada yang berbeda dalam pelaksanaan tahun ini: pengelolaan sampah pasca-upacara menjadi sorotan utama dan kewajiban mutlak bagi setiap desa adat.

Berdasarkan kesepakatan Paruman Bendesa se-Kota Denpasar, seluruh desa adat yang menggelar prosesi di pesisir pantai wajib memastikan area yang mereka gunakan kembali bersih tanpa menyisakan sampah upakara maupun plastik.

BACA JUGA  Warga Denpasar Ditangkap Terkait Grup Media Sosial Berisi Konten Tidak Pantas

Bendesa Adat Penatih Puri, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, menegaskan bahwa kebersihan pantai kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual penyucian itu sendiri. Dengan melibatkan sekitar 600 krama, pihaknya memastikan tim kebersihan internal desa bergerak sigap.

“Seluas area yang digunakan Melasti, sampahnya menjadi tanggung jawab masing-masing desa adat untuk membersihkan. Ini sudah menjadi kesepakatan bersama di Denpasar agar tidak meninggalkan residu setelah prosesi niskala selesai,” ujar Marhaendra Jaya.

Hal senada diungkapkan Bendesa Adat Tambewu, I Nyoman Sudana. Pihaknya telah menyiagakan kantong-kantong sampah khusus untuk menampung sisa-sisa sarana upakara (sungsungan) dari 800 krama yang hadir.

BACA JUGA  Apa Itu Upacara Menek Kelih? Berikut Penjelasan, Makna dan Banten dalam Tradisi Hindu Bali

“Sampah yang telah terkumpul dalam kantong nantinya akan langsung diangkut oleh petugas DLHK Denpasar. Intinya, pantai harus kembali bersih setelah kami selesai,” tambahnya.

Di sisi lain, Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, mengingatkan bahwa rangkaian Nyepi tahun ini harus mengedepankan nilai Tattwa (filsafat) dan Susila (etika), termasuk etika terhadap lingkungan.

PHDI juga memberikan instruksi tegas jika terdapat Piodalan atau Pujawali yang jatuh tepat pada hari Nyepi, 19 Maret mendatang.

BACA JUGA  Doa atau Mantra Menggosok Gigi Menurut Ajaran Hindu, Agar Gigi Senantiasa Bersih

Upacara tetap dilaksanakan namun dengan pembatasan ketat:

  • Hanya dipimpin oleh Pemangku/Prajuru.
  • Meminimalkan penggunaan api/dupa.
  • Dilarang menggunakan tetabuhan gong atau dharmagita.
  • Umat lainnya cukup menyembah (ngayat) dari rumah masing-masing.

Dengan sinergi antara kesucian ritual dan kedisiplinan menjaga kebersihan lingkungan, diharapkan rangkaian Nyepi tahun ini menjadi momentum pembersihan diri sekaligus pembersihan alam di wilayah Denpasar dan Bali pada umumnya. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!