Eksistensi Janger Pegok sebagai salah satu kesenian klasik ikonik Kota Denpasar siap menghentak panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. Mengusung rekonstruksi sejarah sekaligus adaptasi modern, penonton akan disuguhkan penampilan yang memadukan kesakralan masa lalu dengan inovasi kekinian.
Penata Tabuh Janger Pegok, I Made Agus Wardana, S.Sn., mengungkapkan bahwa garapan tahun ini menjadi sangat spesial karena membawa misi penting untuk menampilkan identitas asli Janger Pegok yang mandiri, atau dalam istilah lokal disebut berdikari dan tanpa guru.
Menurut Agus Wardana, sejarah Janger Pegok sejatinya lahir dari inisiatif para leluhur (Pekak-Pekak Janger) di lingkungan Banjar Pegok, Kelurahan Sesetan, Denpasar Selatan. Kesenian ini bermula dari sebuah sekehe demen (kelompok hobi) tempat para pria berkumpul, menyanyikan gending pujaan dan pujian, yang kala itu kerap dibersamai dengan tradisi minum arak (arakijang).
“Janger lahir di awal abad ke-20 sebagai kesenian baru yang membawa angin modernitas dalam perkembangan seni pertunjukan di Bali, menggeser dominasi drama tari Gambuh yang sebelumnya hanya eksklusif di kalangan istana kerajaan. Menariknya, melalui Janger pulalah tokoh perempuan untuk pertama kalinya tampil di depan publik, menerobos tradisi pertunjukan yang sebelumnya didominasi kaum laki-laki,” ujar Agus Wardana.
Salah satu landasan historis kuat yang diangkat dalam rekonstruksi ini adalah penemuan arsip video penting pada tahun 2009 lalu. Agus Wardana berhasil melacak dokumentasi video tahun 1937–1940 yang tersimpan di lembaga media sains IWF Göttingen, Jerman.
Dalam rekaman berdurasi 10 menit tersebut, terekam peristiwa sakral saat odalan sekitar Oktober–November 1936 di Pura Sari Pegok. Kala itu, Bali tengah dilanda wabah grubug (epidemi) malaria. Masyarakat bermaksud menggelar ritual Calonarang untuk menolak bala, namun terkendala karena kekurangan penari sisye yang cukup umur.
“Sebagai solusinya, para penari Janger yang kebetulan sedang berlatih langsung ditunjuk untuk menggantikan peran sisye. Dengan semangat gotong royong, warga mengumpulkan dana untuk membuat kostum. Janger dipentaskan terlebih dahulu selama satu jam sebagai pembuka, sebelum dilanjutkan ke drama tari Calonarang. Uniknya, saat Ratu Ayu Sesuhunan (Rangda) hadir, para penari Janger mengalami kerauhan (kesurupan), menciptakan atmosfer yang sangat magis,” tuturnya menceritakan sejarah emas tersebut.
Untuk penayangan di PKB 2026, struktur musik dan lagu mengalami eksplorasi yang kaya. Sebanyak 10 gending akan dilantunkan, menggabungkan hasil rekonstruksi, adaptasi, modifikasi, hingga karya orisinal baru.
Urutan gending yang akan dibawakan meliputi:
- Nyumu Atur (Karya Ciaaattt 2026)
- Saking Swarga (Adaptasi/Modifikasi)
- Sinempura (Original Klasik)
- Sarung Alus (Adaptasi/Modifikasi)
- Tambur (Original Klasik)
- Pingsan di Pabine (Karya Ciaaattt 2021)
- Suling Cenik (Rekonstruksi/Original Klasik)
- Ring Darmasaba (Rekonstruksi/Adaptasi/Modifikasi)
- Benang Rinti (Rekonstruksi/Original Klasik)
- Adi Ayu (Adaptasi/Modifikasi)
Dari segi musikalitas, iringan tidak lagi hanya menggunakan Gong Suling atau Suling Batel konvensional, melainkan diperkaya dengan Gamelan Smarandana. Penggunaan laras yang bervariasi—mulai dari patet selisir, tembung, sundaren, hingga slendro—menjadi tantangan vokal tersendiri karena transisi nadanya yang silih berganti.
“Kendati ada unsur baru, logat atau aksen khas ‘nak Pegok’ tetap menjadi prioritas utama demi menjaga keutuhan identitas kami,” tegas Agus.
Eksperimen juga menyentuh aspek koreografi. Tari yang dibawakan oleh 12 penari Janger (perempuan) dan 12 penari Kecak (laki-laki) dalam formasi persegi ini divariasikan dalam posisi bersimpuh, berlutut (jengkeng), hingga berdiri (mejujuk).
Langkah ini diambil agar tarian tidak monoton dan statis seperti era zaman dulu. Gerakan kepala yang rampak akan menggetarkan gelungan (hiasan kepala dari cukli) sebagai simbol Dewi Sri (padi), dikontraskan dengan gerak Kecak yang tegas dan maskulin layaknya pencak silat.
Sebagai menu utama pertunjukan, sekaa akan membawakan fragmentari (lampahan) bertajuk “Kejit Enyor”, yang diadaptasi dari petikan kisah Adi Parwa Mahabrata: Sunda Upasunda.
Nama Kejit Enyor sendiri diambil dari lirik gending kuno Saking Swarga. Secara etimologi, Kejit berarti mengernyitkan alis (melihat/menelaah), sedangkan Enyor bermakna merayu atau membujuk.
Kisah ini menyoroti dua asura bersaudara, Sunda dan Upasunda, yang bertapa demi mendapatkan kekuatan dahsyat dari Betara Brahma untuk menguasai tiga dunia (Bhur, Bwah, Swah). Setelah permohonan dikabulkan, mereka justru mabuk kekuasaan dan bertindak egois. Demi memulihkan keseimbangan, Betara Brahma menciptakan Bidadari Nilotama. Melalui kecantikan dan rayuan Kejit Enyor, Nilotama berhasil mengadu domba kedua raksasa tersebut hingga saling bunuh.
“Melalui lampahan ini, kami ingin menyampaikan pesan filosofis yang mendalam. Kejit Enyor adalah simbol bagi manusia untuk melakukan introspeksi diri—melihat ke dalam ruang terdalam sanubari, serta membujuk diri sendiri agar menjauhi sifat-sifat buruk. Ini adalah upaya memproyeksikan nilai kehidupan agar kita mampu mengutamakan Atma menuju Jiwa Paripurna,” pungkas Agus Wardana. (TB)
