Amor Ing Acintya, Budayawan dan Fotografer Senior Widnyana Sudibya Tutup Usia

Author:
Share

Bali kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya di bidang seni dan kebudayaan. Widnyana Sudibya, sosok budayawan sekaligus fotografer senior yang selama puluhan tahun konsisten mengabadikan denyut nadi tradisi Bali, berpulang dengan meninggalkan warisan visual dan pemikiran yang mendalam bagi Pulau Dewata.

Kepergian pria yang akrab disapa Pak Wid ini membawa duka mendalam. Tidak hanya bagi keluarga besar yang ditinggalkan, tetapi juga bagi kalangan seniman, fotografer, akademisi, hingga para pegiat budaya di Bali. Almarhum dikenal sebagai figur multitalenta yang unik—mampu mengawinkan ketajaman berpikir rasional seorang insinyur dengan kelembutan rasa seorang pencinta seni tradisi.

Semasa hidupnya, Widnyana Sudibya tercatat sebagai salah satu pendiri Perhimpunan Fotografer Bali (PFB). Di mata almarhum, fotografi bukan sekadar urusan teknis menekan tombol rana, melainkan sebuah medium sakral untuk merekam perjalanan peradaban dan spiritualitas Bali agar tidak lekang oleh waktu.

BACA JUGA  Pembangunan Museum Ida Pedanda Made Sidemen Segera Dilakukan di Sanur

Ketua PFB, Made Dana, mengenang almarhum sebagai mentor dan figur yang memiliki perhatian luar biasa terhadap isu-isu pelestarian budaya di tengah gempuran modernisasi.

“Beliau bukan hanya fotografer, tetapi budayawan yang sangat peduli menjaga identitas Bali. Cara berpikirnya sangat sistematis, namun di sisi lain memiliki jiwa seni dan kepedulian budaya yang amat kuat,” ujar Made Dana saat dikonfirmasi.

Lewat bidikan kameranya, Pak Wid aktif mendokumentasikan berbagai ritual adat, upacara keagamaan, pertunjukan seni langka, hingga dinamika sosial masyarakat. Hampir tidak ada peristiwa budaya besar di Bali yang luput dari lensa kameranya.

Hal tersebut dibenarkan oleh putra-putri almarhum, Gde Jiesta Sudibya dan Nadia Sudibya. Mereka menuturkan bahwa sang ayah memiliki dedikasi yang luar biasa tinggi jika sudah menyangkut dokumentasi budaya Bali.

BACA JUGA  Sosok DJ Diah Krisna, Sosok DJ Perempuan Asal Bali yang Eksis di Panggung dan Media Sosial, Tampil Seksi

“Bapak hampir tidak pernah absen hadir langsung di kegiatan budaya seperti Pesta Kesenian Bali (PKB), upacara besar di Pura Besakih, dan pura-pura lainnya di Bali. Beliau memang sangat cinta budaya,” ungkap mereka hangat.

Berdasarkan keterangan dari pihak keluarga, sebelum mengembuskan napas terakhirnya, almarhum sempat mengalami penurunan kondisi fisik akibat gangguan kesehatan pada sistem pencernaan.
“Beliau mengalami masalah di usus, susah buang air besar, dan sempat divonis tumor,” tutur perwakilan keluarga mengenai kondisi medis terakhir almarhum.

Selain mewariskan ribuan frame foto bernilai sejarah tinggi, Widnyana Sudibya juga dikenal vokal dalam menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan modern dan kelestarian alam serta tradisi Bali.

BACA JUGA  Monkey Forest, Hutan Suci dan Rumah Bagi Ribuan Monyet di Jantung Ubud

Pemikiran-pemikirannya yang kritis namun solutif sering ia tuangkan dalam berbagai diskusi budaya, tulisan, maupun forum-forum adat.

Di kalangan fotografer muda, ia dikenang sebagai sosok yang bersahaja, rendah hati, dan tidak pelit ilmu. Ia selalu mendorong generasi penerus untuk menggunakan kamera sebagai alat pelestari warisan leluhur.

Almarhum Widnyana Sudibya mengembuskan napas terakhirnya pada Senin (19/5) malam di RSUP Prof. Ngoerah (Sanglah), Denpasar.

Berikut adalah rangkaian prosesi penghormatan terakhir untuk almarhum:

  • Penyemayaman: Jenazah disemayamkan di Rumah Duka RSAD Udayana, Jalan Sudirman, Denpasar hingga Minggu, 24 Mei.
  • Prosesi Pengabenan & Memukur: Upacara pelebon/pengabenan dan memukur dilaksanakan hari ini, Senin (25/5), bertempat di Krematorium Punduk Dawa, Klungkung. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!