Desa Adat Sumerta Gelar Melaspas dan Pasupati Pelawatan di Pura Dalem Penataran Sumerta

Author:
Share

Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara, turut serta dalam upacara sakral Melaspas dan Pasupati Pelawatan di Pura Dalem Penataran Sumerta, Desa Adat Sumerta, yang bertepatan dengan Wraspati Kliwon Warigadean, Kamis 3 April 2025.

Ritual keagamaan ini diselenggarakan setelah rampungnya perbaikan serta penyucian busana pelawatan Ida Ratu Made Sedaya.

Hadir pula dalam upacara ini anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, anggota DPRD Kota Denpasar, I Made Mudra, Camat Denpasar Timur, Ni Ketut Sri Karyawati, serta krama Desa Adat Sumerta yang mengikuti prosesi dengan penuh hikmat.

BACA JUGA  Dua Orang Ini Curi HP di Denpasar, Kerugian Capai Rp 30 Juta

Kelihan Prajuru Penyatusan Abiankapas Ketapian Desa Adat Sumerta, I Made Tirana, menjelaskan bahwa pelaksanaan Melaspas dan Pasupati ini dilakukan sebagai bagian dari rangkaian penyucian setelah perbaikan busana pelawatan yang telah mengalami kerusakan.

Proses perbaikan tersebut telah berlangsung sejak Januari, kemudian diakhiri dengan prosesi penyucian, Melaspas, dan Pasupati. Setelah itu, rangkaian upacara berlanjut dengan prosesi Mesuci dan Melasti.

Menurutnya, upacara ini merupakan wujud bhakti masyarakat terhadap Ida Bhatara Sesuhunan dengan harapan agar seluruh krama Desa Adat Sumerta senantiasa diberkahi kesehatan, kesejahteraan, dan kemakmuran.

BACA JUGA  Cegah Kriminalitas, Denpasar Ganti 108 Titik Lampu Konvensional Jadi Lampu LED

“Kami berharap melalui upacara ini, seluruh krama senantiasa dalam lindungan Ida Sang Hyang Widi Wasa serta mendapatkan anugerah kehidupan yang harmonis dan sejahtera,” ujar I Made Tirana.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menyampaikan bahwa upacara ini bukan hanya sebagai bentuk penghormatan dan kepercayaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai Tri Hita Karana, yaitu menjaga keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan lingkungan (palemahan).

BACA JUGA  Wisatawan Asal Slovenia Jadi Korban Pencurian di Warung Makan Denpasar Selatan

“Melalui upacara ini, mari kita tingkatkan rasa bhakti kita, menjaga harmoni antara manusia, lingkungan, dan spiritualitas, sehingga kehidupan yang selaras dan damai dapat terus kita jaga,” ungkap Jaya Negara.

Upacara ini menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya dan tradisi Hindu di Bali, serta memperkuat ikatan kebersamaan antarwarga dalam menjaga nilai-nilai spiritual dan sosial di tengah kehidupan modern. (TB)

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!