Pementasan Calonarang dan prosesi keagamaan yang melibatkan tarian Rangda kembali menjadi perhatian setelah seorang penari dilaporkan meninggal dunia akibat tertusuk keris saat mengikuti kegiatan keagamaan di sebuah pura di Batam, Jumat (9/10/2026).
Peristiwa tersebut mengingatkan pada sejumlah kejadian serupa yang pernah terjadi di Bali. Dalam beberapa kasus, penari yang memerankan Rangda atau mengikuti prosesi ritual mengalami luka tusuk keris ketika pementasan maupun ritual berlangsung.
Beberapa korban sempat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Namun, nyawa mereka tidak tertolong.
Berikut catatan sejumlah peristiwa tragis penari Rangda yang meninggal dunia setelah tertusuk keris saat pementasan atau prosesi keagamaan yang dirangkum dari berbagai sumber.
- Kejadian di Jembrana Tahun 2014
Peristiwa tragis pernah terjadi saat pementasan Calonarang di Pura Jati Luih, Desa Pangkung Jangu, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana.
Komang NTPM, seorang pelajar SMP berusia 14 tahun asal Lingkungan Delod Bale Agung, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, mengalami luka tusuk ketika memerankan Rangda dalam pementasan Calonarang.
Pementasan tersebut berlangsung pada Senin dini hari, 12 Oktober 2014, sekitar pukul 00.30 Wita.
Awalnya, pementasan berjalan lancar. Korban bersama sejumlah seniman lainnya turut menyemarakkan pertunjukan tersebut. Namun, suasana berubah menjadi kepanikan ketika korban roboh setelah tertusuk keris.
Korban kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Dari hasil pemeriksaan, korban mengalami luka tusuk pada bagian lambung. Setelah menjalani perawatan selama sehari, korban dibawa pulang oleh keluarganya untuk menjalani rawat jalan di rumah.
Namun, kondisi korban kembali memburuk. Baru sehari berada di rumah, korban mengalami muntah-muntah sehingga keluarganya kembali membawanya ke RSUD Negara.
Upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil. Korban akhirnya meninggal dunia pada Rabu malam, 14 Oktober 2014, sekitar pukul 21.00 Wita.
- Kejadian di Karangasem Tahun 2019
Peristiwa serupa juga menimpa I Gede Suardana, 40, penari asal Banjar Peninggaran, Desa Seraya Tengah, Kecamatan dan Kabupaten Karangasem.
Suardana meninggal dunia setelah tertancap keris ketika menari dalam kondisi kerauhan saat berlangsungnya piodalan di Pura Batu Telu, Banjar Celagi, Desa Seraya Tengah.
Peristiwa itu terjadi pada Buda Pon Bala, Rabu, 30 Oktober 2019 sebagaimana dilansir dari Nusa Bali.
Setelah mengalami insiden itu, korban mendapatkan penanganan medis dan dirawat di RSUP Sanglah, Denpasar.
Namun, nyawanya tidak tertolong. Suardana meninggal dunia pada Kamis malam, 31 Oktober, sekitar pukul 23.00 Wita.
- Kejadian di Denpasar Tahun 2021
Pada Februari 2021, kejadian serupa kembali terjadi di Kota Denpasar. Seorang pemuda berinisial GNEP, berusia 16 tahun, meninggal dunia setelah tertusuk keris ketika menari Rangda dalam ritual Napak Pertiwi.
Peristiwa nahas tersebut terjadi pada Kamis dini hari, 4 Februari 2021, di sebuah rumah di Jalan Sutomo, Banjar Blong Gede, Pemecutan Kaja, Denpasar.
Korban saat itu mengikuti prosesi ritual yang menjadi bagian dari kegiatan keagamaan.
Insiden tersebut membuat korban harus mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Wangaya, Denpasar.
Namun, kondisi korban tidak berhasil diselamatkan. GNEP meninggal dunia pada Jumat, 5 Februari 2021, saat masih menjalani perawatan di rumah sakit.
- Kejadian di Batam Tahun 2026
Peristiwa terbaru yang menjadi perhatian terjadi di sebuah pura di Batam, Jumat, 9 Oktober 2026.
Seorang penari Rangda meninggal dunia setelah tertusuk keris ketika mengikuti prosesi upacara keagamaan.
Korban sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Namun, nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Insiden tersebut terjadi saat rangkaian Karya Ngenteg Linggih dan Odalan Pura berlangsung.
Kegiatan keagamaan itu mencakup sejumlah prosesi, di antaranya ngerehang dan napak pertiwi.
Peristiwa tersebut kembali menjadi perhatian karena melibatkan tarian Rangda dan keris dalam rangkaian ritual keagamaan.
Meski berlangsung dalam konteks upacara, insiden ini menunjukkan pentingnya memastikan keselamatan peserta selama kegiatan berlangsung, terlebih ketika melibatkan benda tajam.
